HOME  ⁄  Pertambangan

BUMA International Group Catat Pertumbuhan EBITDA pada Semester I 2026 Meski Pendapatan Menurun

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

BUMA International Group Catat Pertumbuhan EBITDA pada Semester I 2026 Meski Pendapatan Menurun
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Armada truk pengangkut batu bara sedang beroperasi di salah satu kawasan pertambangan PT Buma Internasional Group (Antara/HO/Buma International Group).)

Pantau - PT BUMA International Group membukukan pertumbuhan Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) pada semester pertama 2026 menjadi 69 juta dolar AS atau naik 8 persen secara tahunan dibandingkan 64 juta dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya, meski pendapatan menurun dan perusahaan menghadapi biaya nonberulang.

Perusahaan juga mencatatkan rugi bersih sebesar 50 juta dolar AS, membaik 37 persen dibandingkan rugi bersih 80 juta dolar AS pada semester pertama 2025.

Efisiensi Operasional Dorong Perbaikan Kinerja

Direktur BUMA International Group Iwan Fuad Salim mengungkapkan, "Peningkatan EBITDA, perbaikan margin, dan penguatan arus kas bebas menunjukkan bahwa berbagai langkah yang telah kami jalankan selama setahun terakhir di seluruh area operasional, optimalisasi tenaga kerja, dan pemeliharaan, telah memberikan hasil, bahkan di tengah penurunan pendapatan dan lonjakan harga bahan bakar yang signifikan."

Menurut Iwan, tanpa memperhitungkan kenaikan harga bahan bakar, EBITDA perusahaan diperkirakan mendekati 78 juta dolar AS yang mencerminkan peningkatan efisiensi operasional.

Perbaikan kinerja juga didukung keuntungan 12 juta dolar AS dari penjualan aset lahan Atlantic Carbon Group, penurunan depresiasi dan amortisasi sebesar 19,3 juta dolar AS, serta peningkatan keuntungan selisih kurs bersih sebesar 11 juta dolar AS.

Namun, perusahaan masih menghadapi dampak negatif sebesar 14,5 juta dolar AS yang berasal dari investasi Grup di 29Metals.

Belanja Modal Turun dan Arus Kas Menguat

Belanja modal BUMA International Group pada semester pertama 2026 tercatat sebesar 37 juta dolar AS atau turun 67 persen dibandingkan 111 juta dolar AS pada periode yang sama tahun lalu.

Efisiensi belanja modal dilakukan melalui optimalisasi armada dan pengalihan aset dari lokasi operasional yang telah berhenti beroperasi, dengan sebagian besar anggaran dialokasikan untuk pemeliharaan armada.

Arus kas bebas perusahaan meningkat signifikan menjadi 39 juta dolar AS dari sebelumnya 5 juta dolar AS pada semester pertama 2025.

Iwan menambahkan, "Prioritas perusahaan adalah melanjutkan momentum operasional ini, menjaga disiplin biaya dan modal, serta mengelola eksposur harga bahan bakar seiring upaya kami memperkuat perolehan arus kas."

Penulis :
Ahmad Yusuf