HOME  ⁄  Teknologi & Sains

Penelitian Ungkap AI Mampu Merancang Genom Virus Baru untuk Pengembangan Terapi

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Penelitian Ungkap AI Mampu Merancang Genom Virus Baru untuk Pengembangan Terapi
Foto: (Sumber :Ilustrasi virus. (Pexels/Monstera Production).)

Pantau - Hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Science menunjukkan bahwa model kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mampu merancang genom virus dan menghasilkan virus baru melalui pendekatan model bahasa genom.

Penelitian tersebut dilakukan oleh ilmuwan dari Arc Institute di Palo Alto dan Universitas Stanford dengan melatih AI menggunakan kumpulan data DNA sebelum memintanya menyusun rancangan genom virus.

AI Berhasil Menghasilkan Genom Virus

Model bahasa genom Evo1 dan Evo2 digunakan untuk menghasilkan bakteriofag, yakni virus yang menginfeksi bakteri dan memiliki berbagai aplikasi dalam biologi molekuler, rekayasa mikroba, serta terapi.

Model tersebut dimanfaatkan untuk menghasilkan genom fag utuh dengan arsitektur genetik yang realistis dan spesifisitas terhadap inang bakteri Escherichia coli C.

Para peneliti kemudian mengevaluasi ribuan genom hasil rancangan AI dan menemukan 16 fag yang dinilai layak serta berbeda dari fag alami yang telah diketahui sebelumnya.

Menurut para peneliti, "model AI generatif mampu menangkap batasan evolusioner dalam urutan DNA dengan tingkat akurasi yang memadai untuk menghasilkan genom bakteriofag utuh," ungkap mereka dalam ringkasan penelitian yang dipublikasikan di Science.

Berpotensi Kembangkan Terapi, Perlu Regulasi Ketat

Para peneliti menyampaikan bahwa pendekatan tersebut dapat memperluas kemampuan genomika sintetik dan membuka jalan bagi pengembangan terapi fag yang lebih adaptif terhadap patogen yang berevolusi dengan cepat.

Menurut laporan Engadget, virus yang dirancang menggunakan AI berpotensi dimanfaatkan untuk meningkatkan terapi gen sekaligus mengembangkan alat yang lebih efektif dalam menyerang bakteri berbahaya.

Meski demikian, pengembangan teknologi tersebut dinilai memerlukan regulasi yang ketat agar penerapannya berlangsung secara bertanggung jawab dan tidak menimbulkan risiko baru.

Penulis :
Aditya Yohan