Pantau Flash
Unjuk Rasa di AS Ricuh, 2 Warga Sipil Tewas, Toko Dijarah
Catat Rekor Kasus Baru Korona, Brazil Kawasan Terparah COVID-19
Gitaris Band Legendaris 'KISS', Bob Kulick Meninggal Dunia
Klub Sepakbola La Liga Spanyol Latihan Penuh Mulai 1 Juni 2020
Denda Akibat Pelanggaran PSBB di DKI Jakarta Sentuh Rp600 Juta

Benny Wenda Ingatkan untuk Melawan Korona Demi Kemerdakaan Papua

Benny Wenda Ingatkan untuk Melawan Korona Demi Kemerdakaan Papua Dua orang yang sebelumnya dalam pemantauan di Papua telah dinyatakan positif corona, di tengah kekhawatiran bahwa masyarakat adat selalu terhantam lebih berat menghadapi wabah penyakit. (Foto: ABC News/Jarrod Fankhauser)

Pantau.com - Penyebaran virus korona di Indonesia semakin mengkhawatirkan setelah ditemukan kasus di daerah-daerah yang layanan kesehatannya sangat terbatas, seperti di Papua.

Hari Minggu 22 Maret 2020, Pemerintah Indonesia melaporkan adanya satu kasus COVID-19 di Maluku serta dua kasus di Papua. Menanggapi penyebaran virus mematikan ini, pemimpin Gerakan Papua Merdeka (ULMWP), Benny Wenda menyatakan rakyat Papua kini harus siap menghadapi "krisis ganda".

Di satu sisi, operasi militer Indonesia yang mengancam krisis kemanusiaan masih terus berlangsung, sementara di sisi lain kini ancaman krisis kesehatan semakin nyata. "Risiko rakyat kami semakin tinggi terhadap korona virus, karena Indonesia telah menghancurkan cara hidup kami tanpa memberikan layanan kesehatan atau dukungan lingkungan hidup," kata Benny Wenda dalam rilis, yang dilansir dari ABC News, Selasa (24/3/2020).

Karenanya, ia meminta rakyat Papua agar jangan panik, namun tetap mempersiapkan diri menghadapi tahun-tahun yang sulit ke depan. "Saya meminta seluruh rakyat saya untuk kembali ke cara hidup tradisonal yang telah kita tinggalkan, kembali berkebun di kampung masing-masing," ujar Benny.

"Kita punya sumber air, buah-buahan, lahan dan kebun. Kita bisa kembali menangkap ikan, makan sagu dan sayur di desa kita," imbaunya,

"Ini kesempatan terbaik untuk menghidar dari virus korona dan melanjutkan perjuangan kemerdekaan kita," ujarnya.

Baca juga: 1 Warga Ambon Positif Terinfeksi Virus Korona

Pemerintah ambil langkah tangani korona di Papua

Sementara itu, Pangdam XVII/Cendrawasih Mayor Jenderal TNI Herman Asaribab pekan lalu memaparkan upaya untuk menangani wabah vorus korona di wilayah Papua dan Papua Barat.

Ia mengatakan pihaknya telah mengambil sejumlah langkah, seperti mendirikan posko pemantauan dan Posko Siaga Penanganan Virus korona di Rumah Sakit Marthen Indey Jayapura.

"Kami menyediakan lima ruang pengawasan untuk pasien yang sudah suspect, serta 30 tempat tidur untuk dijadikan tempat perawatan pasien yang dinyatakan positif korona," kata Mayjen Herman melalui keterangan tertulis.

Dua kasus baru virus korona di Papua telah dilaporkan hari Minggu kemarin. "Kondisi mereka sakit sedang, artinya tidak perlu menggunakan alat bantu," kata juru bicara Satgas Covid-19 Papua, Silwanus Sumule kepada media setempat.

Menurutnya, kedua pasien berada di Kabupaten Merauke dan pihak berwenang sedang melacak jejak kedua pasien ini. Sejauh ini dilaporkan terdapat 9 Pasien Dalam Pemantauan di Papua, pemeriksaan sampel mereka dilakukan dengan dikirim ke Jakarta.

Baca juga: Benny Wenda Suarakan Jeritan Papua di Indonesia dalam Forum Menlu Melanesia

Situasi sekitar Freeport

Benny mengatakan situasi di sekitar pertambangan Freeport terus mengalami penurunan. Dua anggota sayap militer ULMWP, menurut Benny, telah tewas terbunuh oleh pasukan keamanan Indonesia.

"Freeport harus segera menghentikan produksinya. Perusahaan ini tahu bahwa persoalan di sekitar wilayah tambang sangat mendalam dan tidak akan berhenti sampai ada solusi yang adil bagi rakyat Papua," tegasnya.

Solusi yang dimaksud Benny yaitu dihormatinya penentuan nasib sendiri dan digelarnya referendum kemerdekaan Papua. Benny mempertanyakan apakah Freeport masih ingin terus membantu dan terlibat melakukan genosida di Papua.

Sebelumnya CEO Freeport-McMoRan Inc, Richard C. Adkerson dalam keterangan resmi hari Selasa (10/3) mengatakan pihaknya tetap berupaya meningkatkan pertumbuhan volume tembaga dan emas sebesar 30 hingga 40 persen. "Kami tetap fokus pada rencana kami meski ada virus korona. Ini agar dapat memberikan peluang untuk kinerja yang unggul saat kondisi pasar membaik," kata Richard.

Sementara itu aktivis HAM Veronica Koman menyatakan masyarakat adat mana pun di seluruh dunia selalu terhantam lebih berat ketika terjadi wabah penyakit.

"Hal ini dikarenakan masyarakat adat cenderung hidup komunal, hingga menyebabkan mudahnya virus menular ke seluruh komunitas. Masyarakat adat juga cenderung memiliki akses kesehatan yang rendah. Sehingga saya setuju untuk lockdown di Papua untuk memperlambat penyebaran virus," ujar Veronica.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta

Berita Terkait: