Pantau Flash
TNI Kirim Pasukan Khusus ke Sigi Buru Kelompok MIT Pimpinan Ali Kalora
Indonesia Siapkan Nuklir untuk Perangi Kelaparan
PSBB Proporsional Bodebek Diperpanjang hingga 23 Desember 2020
BI: Uang Beredar pada Oktober 2020 Naik Jadi Rp6.780,8 Triliun
Korban Tewas Kecelakaan di Tol Cipali KM 78 Berjumlah 10 Orang

Pakar Virus Sebut Mudiknya Warga Jakarta Akan Munculkan Kasus Baru Korona

Pakar Virus Sebut Mudiknya Warga Jakarta Akan Munculkan Kasus Baru Korona Ilustrasi mudik. (Pantau.com/Amin H. Al Bakki)

Pantau.com - Pakar virus Universitas Brawijaya (UB) Malang dr Andrew William Tulle, M.Sc mengemukakan gerakan mudik penduduk Jakarta ke sejumlah daerah di Tanah Air memengaruhi pola penyebaran dan akan memunculkan kasus-kasus baru serta mengubah masa puncak wabah COVID-19.

"Jika upaya pencegahan transmisi dapat dimaksimalkan, perkiraan puncak wabah juga akan bergeser dan wabah virus ini bisa segera berakhir," katanya di Malang, Jawa Timur, Rabu (1/4/2020).

Dosen Fakultas Kedokteran UB itu menambahkan selama ini virus korona masih ditransmisikan secara efektif antarmanusia, sehingga jumlah penderita terus bertambah. "Upaya yang dapat dilakukan adalah menghambat penyebaran dengan mengurangi kemungkinan transmisi virus antarmanusia, hingga seluruh penderita sembuh dan terbebas dari virus," katanya.

Baca juga: Geger! Seorang Perawat RSPAD Gatot Soebroto Meninggal di Ruang Isolasi

Ia berharap dengan mengurangi transmisi dan seiring berjalannya waktu, virus korona akan mengalami mutasi dan menjadi lebih lemah, seperti terjadi pada SARS 2002-2003, d imana hasil penelitian menunjukkan adanya mutasi virus SARS 2002-2003 yang menyebabkan keganasan virus berkurang dan kasusnya mereda.

Andrew mengimbau masyarakat tetap mengikuti aturan pemerintah agar virus korona tidak semakin menyebar. "Di Indonesia, kemampuan untuk mendeteksi kasus baru COVID-19 masih terbatas," kata lulusan Master of Science (Biology & Biotechnology) RMIT University, Melbourne, Australia itu.

Ia mengatakan virus korona merupakan virus yang memiliki selubung di bagian luar yang disebut "envelope". Virus-virus envelope, jika envelopenya rusak akan menjadi inaktif. Oleh karena itu, virus-virus envelope mudah diinaktifkan.

Akan tetapi, lanjutnya, virus korona berbeda dengan virus envelope yang lain, karena lebih mampu bertahan di lingkungan. "Hanya saja faktor yang menyebabkan virus korona lebih stabil masih belum jelas," kata Andrew.

Ia mengatakan berdasarkan penelitian terbaru di NIH (National Institute of Health, US), virus COVID-19 dapat bertahan di lingkungan selama delapan jam dengan sedikit penurunan jumlah mulai terjadi pada tiga jam pertama. Selain itu, virus tersebut juga dapat bertahan cukup lama pada permukaan benda mati.

Baca juga: Jokowi Minta Pemda Tak Lebay Awasi Warga yang Sudah Telanjur Mudik

Waktu paruh virus, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk jumlah virus berkurang menjadi separuhnya, pada permukaan tembaga sekitar tiga jam, kertas kardus sekitar delapan jam, besi selama 13 jam, dan plastik selama 15 jam. "Berdasarkan penelitian tersebut, virus masih terdeteksi pada besi dan plastik hingga 72 jam, tetapi jumlahnya sudah turun hingga sepertiganya. Namun, penelitian tersebut hanya menguji stabilitas virus, belum diketahui apakah virus tersebut masih infeksius atau tidak," katanya.

Meski demikian, ia mengimbau masyarakat tidak panik. Pada saat menangani SARS belum ada media sosial, sehingga tenaga medis bisa menangani dengan lebih tenang, sedangkan pada masa COVID-19 ini, sering muncul broadcast-broadcast yang kurang tepat dan hoax-hoax di media sosial yang membuat masyarakat semakin panik.

"Mungkin media bisa membantu dalam perang' melawan COVID-19 ini dengan menyebarkan berita-berita positif, sehingga dapat membantu meredakan kepanikan di masyarakat," demikian  Andrew William Tulle.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta

Berita Terkait: