
Pantau.com - Pemimpin Arab saudi berjanji kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa ia akan meningkatkan produksi minyak jika diperlukan. Hingga kini, Arab memilki 2 juta barrel per hari dari kapasitas cadangan yang tersedia.
"Raja Salman menegaskan bahwa Kerajaan itu menyediakan kapasitas cadanagan sebanyak dua juta barrel per hari, yang akan digunakan dengan hati-hati jika dan sewaktu-waktu perlu untuk menjamin keseimbangan pasar," demikian pernyataan tersebut.
"Barusan bicara dengan Raja Salman dari Arab saudi dan menjelaskan kepadanya bahwa, karena pergolakan dan disfungsi di Iran dan Venezuela, saya mmeminta Arab saudi meningkatkan produksi minyak, mungkin hingga 2.000.000 barrel, untuk membuat perbedaan harga naik! Dia setuju!" kata Trump.
Ekspor minyak Iran Dari Dubai Reuters yang mengutip kantor berita IRNA melaporkan pada Sabtu, Iran sedang mempelajari cara-cara agar bisa mengekspor minyak dan langkah-langkah lain untuk mengatasi sanksi-sanksi ekonomi Amerika Serikat.
Baca juga: Misteri Perjanjian Rahasia PBB-Myanmar yang Tak Jamin Kewarganegaraan Rohingya
Sejak bulan lalu, ketika Presiden AS Donald Trump menarik diri dari perjanjian nuklir yang mencabut sebagian besar sanksi-sanksi pada tahun 2015, nilai mata uang real telah jatuh hingga 40 persen, menimbulkan protes-protes yang dilakukan oleh pedagang-pedagang yang biasanya setia kepada penguasa negara itu.
Berbicara setelah tiga hari protes-protes tersebut, pemimpin tertinggi Ayatullah Ali Khamenei mengatakan sanksi-sanksi AS bertujuan untuk mengubah rakyat Iran melawan pemerintah mereka.
Pengunjuk-pengunjuk rasa lainnya bentrok dengan polisi Sabtu sore dalam demonstrasi akibat kekurangan air minum. "Mereka melakukan tekanan ekonomi untuk memisahkan negara dari sistem. tapi enam presiden sebelumnya sebelum dia (Trump) berusaha melakukan hal ini dan harus menyerah," kata Khamenei di lamannya Khamenei.ir.
Dengan pemberlakuan kembali sanksi-sanksi AS yang sepertinya untuk membuat negara itu sulit mengakses sistem keuangan global, Presiden Hassan Rouhani telah bertemu dengan ketua parlemen dan pengadilan untuk membahas langkah-langkah mengatasi sanksi-sanksi tersebut.
Baca juga: Tak Tahan Ucapan Trump, Dubes AS untuk Estonia Mengundurkan Diri
"Berbagai skenario ancaman terhadap ekonomi Iran oleh pemerintah AS dipelajari dan langkah-langkah tepat diambil untuk menghadapi kemungkinan sanksi-sanksi AS, dan mencegah dampak negatifnya," demikian IRNA.
Satu langkah yang akan diambil dengan mengusahakan efisiensi dalam produksi bensin, tambah laporan itu. Pemerintah dan parlemen juga membentuk sebuah komite untuk mempelajari pembeli potensial minyak dan cara-cara memperoleh pemasukan setelah sanksi-sanksi diberlakukan, kata IRNA yang mengutip ucapan , Kepala Komite Energi Parlemen Fereydoun Hassanvand
"Karena kemungkinan ada sanksi-sanksi AS terhadap Iran, komite akan memperlajari kompetensi pembeli dan bagaimana memproses penjualan minyak, alternatif-alternatif penjualan aman yang konsisten dengan hukum internasional dan tidak mengarah kepada korupsi dan pencatutan," kata Hassanvand.
Amerika Serikat telah mengatakan kepada sekutu-sekutunya agar memutus semua impor minyak Iran mulai November, kata seorang pejabat senior dari Departemen Luar Negeri pada Selasa.
- Penulis :
- Widji Ananta









