Pantau Flash
Tundukkan Sesama Wakil Jepang, Yuki/Sayaka Rebut Juara Indonesia Open 2019
Vatikan Bongkar Makam untuk Cari Gadis Hilang 36 Tahun Silam di Roma
Cabor Bulu Tangkis Sukses Kawinkan Emas di Asean School Games 2019
Menteri Susi Ancam "Tenggelamkan" Pembuang Sampah Plastik ke Laut
Indonesia Pimpin Klasemen ASEAN School Games 2019

Jejak Indonesia Dalam Sejarah Masuknya Islam di Australia

Jejak Indonesia Dalam Sejarah Masuknya Islam di Australia Replika masjid pertama di Australia kini berdiri di wilayah Maree, Australia Selatan. Replika masjid pertama di Australia kini berdiri di wilayah Maree, Australia Selatan. (Foto: Islamic Museum of Australia)

Pantau.com - Lebih dari empat dekade lalu, agama Islam mulai masuk ke Australia. Persinggungan antara pelaut dari Indonesia dengan warga Aborijin menjadi titik awalnya. Dalam perjalanannya, Islam di Australia berkembang menjadi komunitas multibudaya. Meski tergolong minoritas, kelompok Muslim Australia dianggap bisa berkontribusi penting dalam menangkal Islamofobia.

gubug kecil dulu mushala

Gubug kecil yang berdiri di tengah Pemakaman Bourke, di New South Wales (NSW) ini dulunya digunakan sebagai mushola. (Foto: Islamic Museum of Australia)

Tak ada yang menyangka jika bangunan beratap compang-camping ini dulunya adalah rumah ibadah. Melansir ABC News, Jumat (26/4/2019), di tahun 1861, bangunan berpilar kayu yang terletak di kota kecil Marree, Australia Selatan, ini adalah masjid pertama yang berdiri di Australia. Bangunan yang kini hanya berupa replika ini dibangun oleh para pendatang dari Afghanistan dan Pakistan yang menjajakan jasa unta.

Baca juga: Kisah Pengakuan Anak-anak Teroris ISIS Asal Australia di Suriah

Masjid pertama boleh jadi dibangun di wilayah selatan Australia. Namun masuknya Islam justru dimulai dari utara benua yang menjadi tetangga Indonesia ini. Nelayan dari Makasar yang berdagang dengan komunitas adat Australia selama era 1600-1700an (yang jadi awal masuknya Islam).

"Sejak kolonisasi, Australia mengalami gelombang migrasi dari negara-negara Islam di dunia. Pada periode 1800an, kami kedatangan para pengembara berunta dari Afghanistan, Persia, dan Mesir yang membangun rel kereta dari Adelaide ke Darwin," jelas Ali Fahour, CEO Museum Islam Australia (IMA) kepada ABC. Fahour menuturkan, selama 40 tahun terakhir, Muslim dari berbagai negara di Afrika dan Timur Tengah menetap di Australia, termasuk mereka yang berasal dari negara terdampak konflik seperti Somalia, Sudan, Irak, dan Palestina.

"Sekarang ada lebih dari 600.000 Muslim di Australia yang berasal dari 70 negara. Komunitas Muslim menjadi cerminan multikulturalisme Australia," sebut mantan atlet footy ini.

Fahour baru saja mengunjungi Indonesia untuk meresmikan pameran foto bertajuk Boundless Plains: The Australia Muslim Connection, yang digelar di Museum Sejarah Jakarta hingga 30 April 2019. Pameran foto ini mengungkap catatan sejarah perkembangan Islam di Australia, termasuk kaitannya dengan para pelaut Makassar yang menjalin hubungan dengan komunitas Aborijin Yolngu di utara Australia. Islam disebut sebagai agama yang tengah berkembang pesat di Australia dengan tingkat pertumbuhan 20 persen.

"Pameran ini memaparkan bahwa Australia, seperti Indonesia, memiliki kekuatan yang berasal dari masyarakatnya yang multiagama dan multibudaya," kata Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gary Quinlan, dalam keterangan pers yang diterima ABC.

"Kita perlu mengembangkan pemahaman yang lebih dalam dan membangun koneksi antara komunitas kita, utamanya komunitas agama kita," imbuh Gary.

Di era keterbukaan informasi seperti sekarang ini, komunitas Muslim -menurut Fahour -sangat berperan besar di dalam menangkal citra buruk terhadap Islam yang banyak muncul di negara Barat. Meski Muslim di banyak negara Barat, seperti Australia, merupakan minoritas, kontribusi positif sekecil apapun mampu menyampaikan pesan damai Islam seperti yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.

Baca juga: Demi Tembus Pemilu, Pendukung Fraser Anning Siap Nekat 'Bakar Alquran'

"Apakah populasi Muslim di negara itu 2,44 persen atau 90 persen, kita semua bisa berkontribusi terhadap hasil positif di negara kita dan dunia," sebut Fahour.

Terkait solusi jangka panjang dalam memerangi Islamofobia atau ketakutan terhadap sesuatu tentang Islam, ia mengatakan pendidikan harus dijadikan sebagai faktor penting.

"Di museum (IMA), kami sangat akrab dengan sumbangsih Muslim Australia untuk negara kami sendiri, bahkan dari zaman pelaut Makassar. Dan sebagai bagian dari tugas kami adalah membagikan cerita ini ke komunitas yang lebih luas," tambahnya.

Menurut Fahour, komunitas Muslim Indonesia yang ada di Australia saat ini juga bisa berperan penting dalam menangkal Islamofobia, yang makin marak sejak peristiwa 9/11 18 tahun lalu.

"Kami melihat Muslim Indonesia di komunitas itu sangat aktif. Komunitas Indonesia memang tak besar dibanding komunitas negara lain tapi kuat dan sangat terhubung dengan komunitas Muslim (lainnya) di Australia dan komunitas yang lebih luas," utaranya kepada ABC.

Share this Post:
Tim Pantau
Penulis
Noor Pratiwi
Category
Internasional

Berita Terkait: