Pantau Flash
PHRI: Penggantian Ari Askhara Bisa Tingkatkan Sektor Pariwisata
Sempat Tekendala Angin, Siti Fadia/Ribka Melesat ke Perempatfinal SEA Games
Fuad Rizal Resmi Gantikan Ari Askhara Jadi Plt Dirut Garuda Indonesia
Kisruh Jiwasraya, DPR: Mudah-mudahan Cepat Selasai
KPK Bisa Turun Tangan Usut Penyelundupan Harley di Garuda Indonesia

LIPI Ungkap Pembakaran Plastik Justru Bahayakan Lingkungan

LIPI Ungkap Pembakaran Plastik Justru Bahayakan Lingkungan Nelayan jala tradisional menangkap ikan di waduk yang tercemar limbah sampah plastik di Lhokseumawe, Aceh, Sabtu (21/9/2019). (Foto: Antara/Rahmad)

Pantau.com - Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan, pembakaran plastik untuk bahan bakar industri dapat membahayakan lingkungan jika dilakukan tidak sempurna dan melepaskan zat berbahaya lain yang menempel pada mikroplastik.

"Plastik itu sifatnya unik, ketika plastik sudah masuk ke alam bisa menjadi media pembawa bahan pencemar lain. Ketika plastik sudah bercampur limbah, kita tidak pernah tahu limbahnya apakah domestik atau termasuk limbah berbahaya, apalagi sudah lama seperti yang diimpor bisa berbulan-bulan sampai ke Indonesia, itu ada kemungkinan menempel," ujar peneliti di Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Muhammad Reza Cordova ketika dihubungi di Jakarta, Senin (18/11/2019).

Baca juga: Jangan Pernah Sepelekan Mikroplastik!

Meski belum ada penelitian yang menguji secara pasti tingkat bahaya mikroplastik dan dampaknya terhadap tubuh, tapi sifat unik tersebut bisa membuatnya mengandung zat lain, seperti ftalat atau dioksin yang terbukti memberikan dampak buruk bagi kesehatan.

Mikroplastik menurut asalnya memang ada dua jenis, yang diproduksi sebagai mikroplastik, seperti microbeads pada kosmetik dan yang kedua adalah hasil degradasi dari plastik besar yang mungkin terdegradasi oleh cahaya matahari atau gelombang laut akhirnya menjadi mikroplastik, seperti yang ditemukan di biota laut.

Sebelumnya, menurut penelitian International Pollutants Elimination Network (IPEN) mengungkap adanya senyawa berbahaya dioksin dalam sampel telur di dua desa di Jawa Timur.

Kandungan dioksin yang ditemukan di sampel telur ayam kampung di desa Bangun, Kabupaten Mojokerto dan Tropodo, Kabupaten Sidoarjo, itu 70 kali lebih tinggi dari standar keselamatan yang ditetapkan badan kesehatan pangan Eropa yaitu European Food Safety Authority (EFSA).

Kandungan dioksin itu menurut uji laboratorium merupakan yang tertinggi kedua di Asia setelah hasil temuan di Vietnam akibat paparan bahan senjata kimia agen oranye yang digunakan Amerika Serikat saat perang Vietnam pada 1960-an.

Dioksin sendiri jika dikonsumsi dalam jangka panjang dapat menyebabkan kanker, merusak sistem kekebalan tubuh dan pertumbuhan.

Kandungan bahan kimia terparah tercatat di dekat pabrik-pabrik tahu yang membakar plastik untuk bahan bakar di Desa Tropodo, Jawa Timur.

Baca juga: Terbukti! Tubuh Manusia Kini Mengandung Sampah Mikroplastik

Praktik tersebut bisa saja menjadi salah satu penyebab adanya kandungan dioksin karena proses pembakaran yang tidak sempurna plastik dapat menghasilkan dioksin. Plastik harus dibakar di atas suhu 600 derajat celcius agar tidak menghasilkan dioksin, menurut peneliti polimer di Pusat Penelitian Kimia LIPI Witta Kartika Restu.

"Berbagai jenis plastik kalau tidak mau menghasilkan polusi maka harus dibakar dalam suhu yang tinggi, tapi kalau suhunya rendah kemungkinan ada senyawa dioksin yang akan terbakar," ujar Witta ketika dihubungi.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Adryan Novandia
Penulis
Bagaskara Isdiansyah
Category
Nasional

Berita Terkait: