Forgot Password Register

Moeldoko Jelaskan Peran Vital Pasukan Elite TNI, Koopssusgab

Moeldoko (Foto: Pantau.com/Dini Afrianti Efendi) Moeldoko (Foto: Pantau.com/Dini Afrianti Efendi)

Pantau.com - Kepala Staf Kepresidenan Panglima TNI (Purn) Moeldoko membeberkan pentingnya Komando Pasukan Operasi Khusus Gabungan (Koopssusgab) untuk menangani berbagai aksi teror di Indonesia.

"Untuk itu saya berpikir ancaman ke depan, bukan hanya teroris, baik dari sisi hankam (Pertahanan dan Keamanan). Untuk itu perlu dibentuk satuan kecil yang kekuatannya berlipat. Makanya dulu kami beri label sempat ada perdebatan apakah koopssusgab atau koopsgabsus," ujar Moeldoko di Hotel Pullman, Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa malam, 22 Mei 2018.

Baca juga: Perangi Terorisme, Jokowi Gunakan Hard Power dan Soft Power

Moeldoko memastikan Koopssusgab memiliki kekuatan berkali-kali lipat dibanding Kopassus, karena merupakan kopassus gabungan dari unsur TNI AL, AU, dan AD, yang merupakan pasukan super elite terpilih terdiri dari Denjaka, Denbravo, dan Sat-81 Gultor. Pasukan ini akan selalu siap siaga terjun ke lapangan apabila Indonesia berada dalam kondisi high intensity conflict. Seperti serangan teror beruntun yang tengah dialami Indonesia beberapa waktu terakhir. 

"Satuan itu dipakai apabila dalam situasi high intensity conflict. Jadi kalau kecil-kecil belum. Kalau sudah maka digerakkan," katanya.

Jika ingin menggerakkan pasukan khusus ini, harus melalui persetujuan Presiden sebagai Ketua Pembina Keamanan Nasional, setelah sebelumnya mendapat laporan situasi kondisi di lapangan dari Kemenkum HAM, BIN, Menkopolhukam, Kapolri, Panglima TNI, Mendagri, hingga Menteri Pertahanan (Menhan).

"Siapa yang gerakkan? Maka presiden pasti. Di luar negeri ada dewan keamanan nasional. Kumpulkan Menkopolhukam, Mendagri, Panglima TNI, Kapolri, Menhan. Turunkan dari presiden adalah perintah pengerahan kekuatan," katanya. 

Baca juga: Pengamat: Kelompok Teroris Juga Saling Bersaing

Dalam praktiknya, Koopssusgab tidak memerlukan undang-undang khusus karena berada dibawah naungan Panglima TNI, sehingga menggunakan UU TNI, dan hanya perlu restu presiden dalam pergerakannya.

Keseharian pasukan ini kata Moeldoko, diisi dengan berbagai macam latihan untuk mengasah kemampuan pasukan. Sehingga jika diturunkan, pasukan selalu siap sedia dan hanya bekerja dalam hitungan menit.

"Hari-harinya hanya latihan, latihan, latihan enggak ada yang lain. Kerjanya anak-anak tiap hari membuat mapping, latihan, operasi. Dalam tempo yang sesingkatnya itu bisa digereget karena semua infrastruktur sudah tersedia," kata Moeldoko.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More