Pantau Flash
Joko Driyono Jalani Sidang Vonis Kasus Perusakan Bukti Pengaturan Skor
Sampah Plastik di Jawa Barat Akan Disulap Jadi Biodiesel
Komisi III DPR Gelar Rapat Pleno Bahas Amnesti Baiq Nuril Hari Ini
Cristiano Ronaldo Bebas dari Dakwaan Kasus Pemerkosaan
Intake Manifold Plastik Diketahui Meleleh, Volvo Tarik 507.353 Kendaraan

Siapa Pemenang Perang Dagang AS-China? Pengamat: ASEAN!

Headline
Siapa Pemenang Perang Dagang AS-China? Pengamat: ASEAN! Ilustrasi (Pixabay)

Pantau.com - Sebagian besar setuju bahwa perang perdagangan sejauh ini belum menjadi strategi kemenangan bagi AS atau China. Namun terlepas dari semua yang kalah, justu muncul beberapa pemenang.

Parag Khanna, penasihat strategi global terkemuka yang TED Talksnya telah ditonton oleh jutaan orang, telah mengikuti perang dagang ini dengan cermat.

"Pemenang perang dagang ini tidak dapat disangkal adalah ASEAN (Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara)," katanya kepada The World.

Baca juga: Waduh! Jack Ma: Staf Harus Banyak Seks dan Kerja 12 Jam Sehari

"Asia Tenggara memenangkan perang perdagangan antara AS dan China karena lebih banyak outsourcing dan pengalihan investasi sekarang menuju ASEAN yang tidak masuk ke China," ujarnya.

Dia mengatakan perang dagang membawa negara-negara Asia lebih dekat. Sebagai contoh, perusahaan Korea dan Jepang yang membuat semikonduktor sekarang akan menggantikan perusahaan Amerika yang terkena tarif timbal balik dari pasar China. Khanna mengatakan daftar pemenang juga melampaui Asia yakni bagian Eropa.

"Eropa juga pemenang. Lihatlah kesepakatan utama yang ditandatangani Airbus dengan China selama kunjungan Xi Jinping ke Prancis," katanya.

"Itu bukan kebetulan, itu bukan kecelakaan. China memutuskan untuk memberikan bantuan kepada Airbus terhadap Boeing sebagai akibat dari perang dagang ini," jelasnya.

Baca juga: Diancam Tarif Balasan 60 Miliar Dolar AS, Trump Ciut Nyali Hingga...

Saatnya memulai 'memikirkan yang tak terpikirkan'

Tetapi Khanna berpendapat sejumlah faktor berarti abad ke-21 milik Asia, pemikir terkemuka kebijakan luar negeri AS mengatakan sudah waktunya untuk mulai memikirkan yang tak terpikirkan dan memutar balik hubungan ekonomi dengan China.

Jonathan Ward adalah mantan konsultan untuk Pemerintah AS dan baru saja merilis sebuah buku berjudul China Vision of Victory.

Ward mengatakan pemerintahan Donald Trump, yang minggu lalu menaikkan bea impor $ 200 miliar dari 10 persen menjadi 25 persen, memulai proses yang tidak terlihat sejak pembentukan hubungan diplomatik antara kedua negara.

"Apa yang anda miliki hari ini adalah untuk pertama kalinya dalam 40 tahun, Pemerintah Amerika memikirkan kembali posisinya dalam hubungan China," kata Ward kepada The World.

Baca juga: Bukan Gertak Sambal, China Siapkan Tarif Impor AS Sebesar USD60 Miliar

"Selama 30 atau 40 tahun terakhir kami pada dasarnya memiliki gagasan untuk terlibat, tetapi lindung nilai ini adalah strategi China kami," ujarnya.

Khanna menambahkan bahwa strategi Trump tidak banyak membantu AS. Perang dagang memiliki dampak negatif yang jauh lebih besar pada Amerika Serikat, bahkan hal itu menguntungkan para mitra dagang China yang lebih penting, yaitu Eropa dan negara-negara Asia lainnya dan tetangga.

"Anda tidak dapat di satu sisi memiliki semacam perang dagang sepihak dengan China tanpa memperhitungkan tarif timbal balik, tanpa memperhitungkan fakta bahwa bahkan sekutu anda, seperti Eropa dan Jepang, sebenarnya mencoba untuk melemahkan anda dan bersaing dengan anda secara komersial," jelasnya.

Lebih lanjut, begitu banyak kebijakan Trump di Asia, termasuk kebijakan China-nya, sangat salah arah.

Share this Post:
Tim Pantau
Penulis
Nani Suherni
Category
Ekonomi

Berita Terkait: