Forgot Password Register

Tiga Lokasi Terdampak Gempa Terparah akan Dibangun Tugu Peringatan dan RTH

Sutopo Purwo Nugroho (Foto: Pantau.com/Lilis Varwati) Sutopo Purwo Nugroho (Foto: Pantau.com/Lilis Varwati)

Pantau.com - Pemerintah daerah Kota Palu dan Kabupaten Donggala akan mendirikan ruang terbuka hijau serta tugu peringatan di tiga lokasi terdampak gempa terparah. Pasalnya, saking parahnya kerusakan yang timbul, menyebabkan lokasi tersebut tak bisa dijadikan lokasi hunian kembali.

Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB Sutopo Purwo Nugroho memaparkan tiga lokasi yang ditutup itu antara lain, Balaroa dan Petobo di Kota Palu serta Jono Oge yang berlokasi di Kabupaten Donggala. 

Baca juga: BNPB: Korban Tewas Gempa Palu dan Donggala Capai 2.010 Orang

"Lokasi di Balaroa, Petobo dan Jono Oge akan ditutup dan dijadikan ruang terbuka hijau serta menjadi memory park dan akan dibangun tugu sebagai penanda kepada masyarakat bahwa pernah terjadi gempa di lokasi tersebut yang berbahaya. Sehingga ini dijadikan edukasi nantinya. Tidak boleh jadi pemukiman," kata Sutopo di Graha BNPB, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Selasa (9/10/2018).

Sebelumnya dilaporkan, berdasarkan catatan BNPB terdapat 67.310 unit rumah yang rusak akibat gempa Palu dan Donggala. Sehingga masyarakat yang rumahnya hancur atau juga berada di wilayah rawan bencana akan direlokasi ke tempat lain. 

Sutopo menyampaikan saat ini proses relokasi masih terfokus pada pembangunan hunian sementara yang akan dibangun oleh pemerintah daerah setempat. 

Baca juga: Beredar Video Kerusakan Gempa Palu, BNPB Nyatakan Itu Hoax

"Jadi nantinya masyarakat sebelum menempati hunian tetap mereka akan menempati hunian sementara. Karena kalau ditempatkan di tenda kasihan, panas suasananya dan tercampur dengan yang lain. Karenanya akan dibangun hunian sementara," jelasnya. 

Hingga saat ini Pemda setempat masih mencari tanah yang cocok dijadikan pemukiman penduduk dan tidak rawan bencana. Menurut Sutopo, penentuan lokasi pembangunan hunian tetap itu juga akan melibatkan para ahli geologi, akademisi, juga beberapa lembaga riset. 

"Setelah bupati dan wali kota menemukan tanah akan diturunkan para ahli dari geologi, perguruan tinggi, dari lembaga riset terkait untuk lakukan kajian apakah lokasi calon lahan untuk hunian tetap aman atau tidak," kata Sutopo.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More