
Pantau - Nilai tukar rupiah dibuka melemah 5 poin atau 0,03 persen menjadi Rp16.641 per dolar AS pada perdagangan Jumat pagi, 28 November 2025, di Jakarta, dari posisi sebelumnya di Rp16.636 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut pelemahan rupiah masih dalam kisaran wajar dan berpotensi mengalami penguatan terbatas dalam beberapa hari ke depan.
"Rupiah diperkirakan akan datar / berkonsolidasi dengan kecenderungan menguat terbatas terhadap dolar AS di tengah absennya data-data ekonomi penting dan liburan Thanksgiving," ungkapnya.
Minim Data dan Libur Thanksgiving Membatasi Gerak Dolar AS
Libur Thanksgiving di Amerika Serikat membuat aktivitas pasar cenderung sepi dan berdampak pada pergerakan mata uang global, termasuk rupiah.
Menurut Lukman Leong, belum dirilisnya data ekonomi penting dari AS menjadi salah satu faktor yang mendukung potensi penguatan terbatas rupiah.
"Memang biasanya minggu terakhir bulan minim data. Biasanya ramai di awal bulan hingga minggu depan," ia menjelaskan.
Kondisi pasar global saat ini juga dipengaruhi oleh tren belanja konsumen AS yang menunjukkan perubahan.
Berdasarkan laporan Xinhua, momen Black Friday tahun ini mulai kehilangan daya tarik di mata konsumen Amerika.
Meski angka belanja tetap diprediksi tinggi, antusiasme dan urgensi yang biasanya menyertai Black Friday kini terlihat menurun.
Perubahan ini terjadi akibat sikap kehati-hatian, keraguan, serta kebiasaan belanja baru yang muncul di tengah ketidakpastian ekonomi.
Konsumen Amerika Mulai Tahan Belanja, Inflasi Jadi Faktor Utama
US National Retail Federation memperkirakan rata-rata pengeluaran konsumen selama liburan sebesar 980 dolar AS, sedikit menurun dibandingkan tahun lalu yang berada di angka 902 dolar AS.
Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan pada daya beli masyarakat, terutama akibat inflasi yang terus berlangsung.
Hasil survei Drive Research tahun 2025 juga menunjukkan kecenderungan konsumen yang lebih selektif dalam pengeluaran.
Ketidakpastian ekonomi global dan kekhawatiran terhadap kondisi finansial masa depan turut mendorong perubahan perilaku belanja masyarakat Amerika.
Faktor-faktor inilah yang menekan pergerakan dolar AS dan membuka ruang konsolidasi bagi rupiah dalam waktu dekat.
- Penulis :
- Aditya Yohan








