Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Melemah Tipis Jadi Rp16.746, Analis Sebut Data Manufaktur AS Bisa Buka Peluang Penguatan

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Rupiah Melemah Tipis Jadi Rp16.746, Analis Sebut Data Manufaktur AS Bisa Buka Peluang Penguatan
Foto: (Sumber: Ilustrasi - Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay).)

Pantau - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dibuka melemah pada perdagangan Selasa di Jakarta, turun 6 poin atau 0,04 persen menjadi Rp16.746 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.740.

Data Manufaktur AS Kontraksi, Tapi Tekanan Domestik Masih Kuat

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan kontraksi.

"Rupiah berpotensi menguat walau terbatas oleh pelemahan dolar AS setelah data manufaktur ISM AS yang terkontraksi lebih besar dari perkiraan. Namun, data perdagangan Indonesia mengecewakan yang dirilis Senin (5/1) masih membebani," ungkapnya.

Data Purchasing Managers Index (PMI) versi Institute for Supply Management (ISM) AS bulan Desember 2025 tercatat sebesar 47,9 persen, turun 0,3 poin dari bulan sebelumnya yang sebesar 48,2 persen.

Angka tersebut juga berada di bawah proyeksi pasar sebesar 48,3 persen, menunjukkan perlambatan aktivitas manufaktur di ekonomi terbesar dunia itu.

Di sisi lain, data domestik belum mampu menopang rupiah secara signifikan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 mencatatkan surplus sebesar 2,66 miliar dolar AS, dengan rincian ekspor sebesar 22,52 miliar dolar AS dan impor sebesar 19,86 miliar dolar AS.

Namun, angka surplus ini di bawah ekspektasi pasar yang sebesar 3,1 miliar dolar AS.

Ekspor tahunan memang tumbuh 6,6 persen, namun angka ini masih berada di bawah proyeksi pasar sebesar 0,5 persen.

Impor hanya tumbuh 0,46 persen year on year, jauh di bawah ekspektasi sebesar 3,2 persen.

Prospek Ekonomi Domestik Jadi Tekanan Tambahan

Lukman Leong juga menyebutkan bahwa rupiah secara umum masih dibayangi oleh berbagai faktor dalam negeri yang memperlemah sentimen.

Beberapa faktor tersebut antara lain:

  • Kebijakan ekspansif pemerintah terkait stimulus ekonomi.
  • Pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia dengan potensi pemangkasan suku bunga.
  • Permintaan domestik yang masih lemah.
  • Kekhawatiran terhadap defisit anggaran negara dalam jangka menengah hingga panjang.

"Rupiah cenderung masih terus tertekan oleh prospek ekonomi domestik sendiri," tutup Lukman.

Penulis :
Ahmad Yusuf