Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Impor Indonesia Masih Didominasi Bahan Baku, Neraca Perdagangan Cetak Surplus 67 Bulan Berturut-turut

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Impor Indonesia Masih Didominasi Bahan Baku, Neraca Perdagangan Cetak Surplus 67 Bulan Berturut-turut
Foto: Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso (sumber: Kemendag)

Pantau - Impor Indonesia selama Januari hingga November 2025 masih didominasi oleh bahan baku atau penolong, yang menyumbang 70,27 persen dari total nilai impor, menurut Menteri Perdagangan Budi Santoso.

Komposisi Impor dan Perubahannya Dibanding Tahun Lalu

Berdasarkan data resmi Kementerian Perdagangan di Jakarta, komposisi impor Indonesia pada periode Januari–November 2025 terdiri dari bahan baku atau penolong sebesar 70,27 persen, barang modal 20,55 persen, dan barang konsumsi 9,18 persen.

Dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2024, impor barang modal mengalami kenaikan sebesar 18,54 persen, sedangkan impor barang konsumsi turun sebesar 2,02 persen, dan impor bahan baku atau penolong turun 1,46 persen.

"Kenaikan impor barang modal yang mencapai 18,54 persen turut disebabkan naiknya impor central processing unit (CPU), ponsel pintar, mobil listrik (selain completely knocked down atau CKD), dan base station," ungkap Budi Santoso.

Produk bahan baku atau penolong yang mengalami penurunan impor terdalam sepanjang Januari–November 2025 antara lain bahan bakar minyak, gula tebu, kacang kedelai, bungkil untuk pakan ternak, dan polipropilena.

Sementara itu, penurunan impor barang konsumsi terutama terjadi pada mesin pengatur suhu udara, bawang putih, mobil listrik CKD, non-dairy creamer, dan obat-obatan.

Pada November 2025, nilai impor Indonesia tercatat sebesar 19,86 miliar dolar AS, turun 9,09 persen dibandingkan Oktober 2025 secara bulanan (MoM).

Nilai impor tersebut terdiri atas impor nonmigas sebesar 17,00 miliar dolar AS dan impor migas sebesar 2,86 miliar dolar AS.

Secara kumulatif, total nilai impor Indonesia sepanjang Januari–November 2025 mencapai 218,02 miliar dolar AS, tumbuh 2,03 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

"Peningkatan ini disebabkan oleh impor nonmigas yang naik 4,37 persen menjadi 188,61 miliar dolar AS dibanding Januari–November 2024 yang sebesar 180,71 miliar dolar AS," ia menambahkan.

Komoditas impor nonmigas dengan pertumbuhan tertinggi secara tahunan (CtC) meliputi garam, belerang, batu, dan semen (HS 25) yang naik 70,89 persen, kakao dan olahannya (HS 18) naik 54,53 persen, serta berbagai produk kimia (HS 38) yang naik 36,12 persen.

Tiongkok, Jepang, dan Amerika Serikat menjadi tiga negara asal impor nonmigas terbesar untuk Indonesia, menyumbang 52,87 persen dari total impor nonmigas.

Negara dengan pertumbuhan impor terbesar dibanding tahun lalu adalah Meksiko (naik 234,22 persen), Uni Emirat Arab (74,86 persen), dan Spanyol (38,32 persen).

Neraca Perdagangan Cetak Surplus Beruntun

Neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 mencatatkan surplus sebesar 2,66 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan surplus bulan Oktober yang sebesar 2,39 miliar dolar AS.

Dengan pencapaian ini, Indonesia membukukan tren surplus neraca perdagangan selama 67 bulan berturut-turut.

Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia selama Januari–November 2025 mencapai surplus 38,54 miliar dolar AS, meningkat dari surplus 29,24 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi ekspor, pada November 2025 Indonesia mencatatkan nilai ekspor sebesar 22,52 miliar dolar AS, turun 7,08 persen secara bulanan (MoM).

Namun secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia pada Januari–November 2025 mencapai 256,56 miliar dolar AS, tumbuh 5,61 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan ekspor tersebut didorong oleh ekspor nonmigas yang naik 7,07 persen secara tahunan menjadi 244,75 miliar dolar AS.

Penulis :
Arian Mesa