
Pantau - HSBC memproyeksikan Bank Indonesia (BI) akan memangkas suku bunga acuan sebesar 75 basis poin (bps) sepanjang tahun 2026.
Prediksi ini disampaikan oleh Pranjul Bhandari, Managing Director, Chief India Economist dan Macro Strategist, ASEAN Economist HSBC Global.
Pemangkasan suku bunga akan dilakukan secara bertahap dalam tiga tahap, yakni pada kuartal I, kuartal II, dan kuartal III tahun 2026.
"Perkiraan kami, kita dapat melihat tiga pemangkasan suku bunga (BI) lagi, pada dasarnya berjumlah 75 basis poin hingga tahun 2026 seiring berjalannya tahun," ungkapnya.
Peluang Lebih Besar pada Kebijakan Moneter
Menurut Pranjul, Indonesia memiliki ruang yang lebih besar untuk melakukan pelonggaran kebijakan moneter dibandingkan kebijakan fiskal guna mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki kesempatan untuk melakukan lebih banyak pelonggaran kebijakan moneter, pemotongan suku bunga saat ini, daripada melakukan lebih banyak pelonggaran fiskal saat ini," ia mengungkapkan.
Ia juga menilai bahwa Bank Indonesia harus cermat dalam memilih waktu pemangkasan suku bunga, terutama ketika indeks dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan.
"Bank Indonesia harus sangat oportunistik dan mencari peluang ketika indeks dolar (AS) secara sedikit melemah, sehingga mata uang pasar negara berkembang terlihat relatif kuat, dan memanfaatkan peluang tersebut untuk memangkas suku bunga selama periode waktu tersebut," ujarnya.
Risiko Fiskal dan Prospek Ekonomi Global
Untuk kebijakan fiskal, Pranjul menyampaikan bahwa stimulasi ekonomi melalui jalur ini mengandung risiko karena defisit fiskal Indonesia telah mencapai 2,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) per Desember 2025.
Meski demikian, ia menyebut bahwa kondisi ini tidak perlu terlalu dikhawatirkan karena terdapat potensi pemulihan ekonomi global pada tahun 2026.
"Menurut saya, pemerintah sebenarnya tidak perlu mengkhawatirkan hal itu (defisit), dan tetap dapat melanjutkan banyak pengeluaran, terutama dalam skema makan gratis dan skema kesejahteraan sosial, hanya karena menurut saya pendapatan pajak akan sedikit lebih baik tahun ini," jelasnya.
Ia kembali menekankan bahwa peluang pelonggaran moneter jauh lebih besar ketimbang ruang untuk kebijakan fiskal saat ini.
"Tetapi secara umum, jika saya menggabungkan keduanya, menurut saya ruangnya jauh lebih besar dalam pelonggaran kebijakan moneter daripada dalam kebijakan fiskal saat ini," katanya.
- Penulis :
- Arian Mesa






