Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Presiden Prabowo Tegaskan Kerukunan sebagai Fondasi Stabilitas Indonesia di Forum Ekonomi Dunia 2026

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Presiden Prabowo Tegaskan Kerukunan sebagai Fondasi Stabilitas Indonesia di Forum Ekonomi Dunia 2026
Foto: (Sumber: Presiden RI Prabowo Subianto di World Economic Forum 2026.)

Pantau - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan pentingnya persatuan dan kolaborasi sebagai dasar perdamaian dan stabilitas dalam pidato kuncinya di World Economic Forum 2026 di Davos, Swiss.

Dalam forum internasional tersebut, Prabowo menegaskan bahwa stabilitas nasional yang dinikmati Indonesia bukanlah hasil keberuntungan, melainkan buah dari pilihan sadar untuk mengutamakan kerukunan dan kerja sama.

"Perdamaian dan stabilitas di Indonesia selama bertahun-tahun tidak terjadi secara kebetulan. Perdamaian dan stabilitas di negara saya tidak terjadi karena keberuntungan. Itu terjadi karena kami, Indonesia, telah dan akan selalu terus memilih persatuan di atas fragmentasi, persahabatan dan kolaborasi di atas konfrontasi, dan selalu persahabatan di atas permusuhan," ungkapnya.

Prabowonomics dan Stabilitas Sosial sebagai Syarat Pertumbuhan

Prabowo juga menekankan bahwa kredibilitas Indonesia di mata dunia dibangun atas dasar komitmen terhadap perdamaian dan kolaborasi.

Menurutnya, stabilitas sosial merupakan prasyarat utama bagi pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan pembangunan nasional.

Gagasan tersebut menjadi inti pendekatan kebijakan yang dikenal sebagai Prabowonomics, yang mengedepankan kohesi sosial sebagai landasan pembangunan.

Pidato ini sejalan dengan pencapaian kerukunan nasional yang menjadi salah satu keberhasilan utama Kabinet Merah Putih.

Indeks Kerukunan dan Kesalehan Catat Rekor Tertinggi

Survei Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) tahun 2025 mencatat skor 77,89, yang merupakan angka tertinggi dalam 11 tahun terakhir sejak pengukuran dimulai pada 2015.

Skor ini tergolong dalam kategori tinggi dan ditopang oleh dimensi toleransi dengan nilai 88,82.

Survei ini dilakukan oleh Kementerian Agama bekerja sama dengan Pusat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Universitas Indonesia.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa capaian tersebut harus menjadi panggilan moral agar agama hadir sebagai panduan etis dalam kehidupan berbangsa.

"Agama tidak boleh berhenti pada simbol dan ritual. Ia harus menjadi penuntun etis, kompas moral yang memberi arah di tengah disrupsi sosial, teknologi, dan budaya," katanya.

Selain IKUB, Kementerian Agama juga merilis Indeks Kesalehan Umat Beragama (IKsUB) 2025 yang mencatat skor 84,61, masuk kategori sangat tinggi.

Indeks ini mengukur dimensi sosial seperti solidaritas, etika sosial, dan pelestarian lingkungan yang dinilai menjadi penopang penting bagi kohesi masyarakat Indonesia.

Penulis :
Aditya Yohan