Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Pemerintah Percepat Transisi Energi, Targetkan Pembangunan PLTS 100 Gigawatt

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Pemerintah Percepat Transisi Energi, Targetkan Pembangunan PLTS 100 Gigawatt
Foto: (Sumber : Ilustrasi - Foto udara suasana Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung Tambaklorok di Semarang, Jawa Tengah, Senin (12/1/2026). Kementerian ESDM mencatat realisasi bauran energi baru dan terbarukan (EBT) sepanjang 2025 mencapai 15,75 persen atau meningkat 1,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan total kapasitas terpasang pembangkit listrik berbasis EBT mencapai 15.630 Megawatt (MW). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/bar.)

Pantau - Pemerintah Indonesia mempercepat pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) guna mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa salah satu langkah utama pemerintah adalah mempercepat pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas hingga 100 gigawatt.

Bahlil menjelaskan bahwa saat ini pembangkit listrik di Indonesia masih banyak menggunakan diesel, selain batubara dan gas.

"Saat ini kita punya pembangkit itu masih pakai diesel, sebagian batubara, sebagian gas. Arahan Bapak Presiden agar kita tidak tergantung pada fosil, khususnya diesel, maka diarahkan untuk kita membangun PLTS 100 gigawatt," kata Bahlil Lahadalia.

Pembangunan PLTS berskala besar tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah mempercepat transisi energi dengan memanfaatkan sumber energi alternatif yang tersedia di dalam negeri.

Selain tenaga surya, pemerintah juga mengoptimalkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan melalui berbagai sumber lain seperti panas bumi atau geothermal serta tenaga air.

Bahlil menyampaikan bahwa pemanfaatan pembangkit listrik berbasis energi bersih dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil dari luar negeri.

"Nah, dengan kita memakai power plant seperti ini, maka kita tidak tergantung lagi dari luar negeri terhadap energi fosil," ujar Bahlil.

Sebelumnya Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa percepatan pengembangan energi baru dan terbarukan diperlukan untuk memperkuat kemandirian energi nasional.

Prabowo menyampaikan target pemerintah untuk mencapai swasembada energi dalam waktu empat tahun.

"Kita sudah punya niat untuk swasembada energi yang kita yakin akan tercapai dalam empat tahun," kata Prabowo.

Presiden Prabowo menugaskan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Satuan Tugas Percepatan Transisi Energi untuk mempercepat pemanfaatan energi bersih di dalam negeri.

Presiden juga memerintahkan percepatan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya guna memperluas elektrifikasi berbasis energi terbarukan.

"Kita akan melaksanakan elektrifikasi energi terbarukan dari tenaga surya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kita akan membangun 100 gigawatt," ujar Prabowo.

Selain pembangunan PLTS berskala besar, pemerintah juga mendorong program konversi motor listrik sebagai bagian dari percepatan transisi energi nasional.

Indonesia dinilai memiliki potensi besar dalam berbagai sumber energi alternatif seperti panas bumi, kelapa sawit, serta biomassa dari komoditas pertanian.

Presiden menyebutkan bahwa Indonesia memiliki sumber energi alternatif yang melimpah seperti kelapa sawit, singkong, jagung, tebu, dan panas bumi.

"Kita punya geothermal yang sangat besar, kalau tidak salah, kedua cadangan terbesar di dunia yang belum dieksploitasi sepenuhnya," kata Prabowo.

Penulis :
Aditya Yohan