Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Hilirisasi Bauksit Dongkrak Lapangan Kerja, DPR: Investasi Rp60 Triliun Serap 14.700 Tenaga Kerja

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Hilirisasi Bauksit Dongkrak Lapangan Kerja, DPR: Investasi Rp60 Triliun Serap 14.700 Tenaga Kerja
Foto: (Sumber: Hilirisasi Bauksit Buka 14.700 Lapangan Kerja Baru, Legislator Dorong Industrialisasi Juga Dipercepat)

Pantau - Kebijakan hilirisasi mineral yang dijalankan pemerintah menunjukkan dampak nyata terhadap penciptaan lapangan kerja baru di Indonesia, terutama melalui proyek-proyek pengolahan dan pemurnian bauksit dalam negeri.

Proyek Strategis Hilirisasi Dorong Serapan Tenaga Kerja Terampil

Pengembangan ekosistem pengolahan dan pemurnian bauksit–alumina–aluminium terintegrasi yang dilakukan oleh Grup MIND ID dinilai menjadi salah satu proyek hilirisasi unggulan yang berkontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja.

Anggota Komisi XII DPR RI, Eddy Soeparno, mengapresiasi langsung dampak kebijakan hilirisasi terhadap sektor ketenagakerjaan nasional.

"Kami menyambut positif kebijakan hilirisasi karena dampaknya sangat konkret terhadap penciptaan lapangan kerja, terutama tenaga kerja formal yang terampil dan memiliki nilai tambah tinggi", ujarnya.

Berdasarkan dokumen Pra Feasibility Study (PFS) yang disusun oleh BPI Danantara bersama Satuan Tugas Hilirisasi, proyek ini merupakan proyek strategis dengan nilai investasi mencapai sekitar Rp60 triliun.

Investasi besar ini diproyeksikan mampu menyerap hingga 14.700 tenaga kerja baru, baik dalam fase konstruksi maupun saat memasuki fase operasional.

Eddy menyebut bahwa investasi tersebut menciptakan multiplier effect yang besar terhadap ekosistem ketenagakerjaan nasional.

"Investasi seperti ini akan menggerakkan ekosistem ekonomi di sekitarnya, mulai dari sektor logistik, jasa pendukung, hingga UMKM lokal", jelasnya.

Kemandirian Aluminium Nasional Jadi Tujuan Strategis

Eddy menambahkan bahwa penciptaan lapangan kerja melalui hilirisasi menjadi semakin penting karena Indonesia masih bergantung pada impor aluminium untuk kebutuhan domestik.

Saat ini, kebutuhan aluminium nasional mencapai sekitar 1,2 juta ton per tahun, dan 54 persen di antaranya masih dipenuhi dari luar negeri.

Padahal, Indonesia memiliki sumber daya mineral bauksit yang sangat besar, yakni total sumber daya sekitar 7,78 miliar ton dengan cadangan mencapai 2,86 miliar ton.

Potensi besar ini disebut Eddy sebagai basis penting dalam membangun industri aluminium nasional yang berkelanjutan dan padat karya.

Ia menegaskan bahwa kebijakan hilirisasi harus terus didorong hingga menyentuh tahap industrialisasi produk turunan dan barang jadi.

"Ketika pemrosesan dan industrialisasi dilakukan di dalam negeri, lapangan kerja tercipta, nilai tambah tinggal di Indonesia, dan manfaat ekonominya dapat dirasakan langsung oleh tenaga kerja dan masyarakat yang lebih luas", tandasnya.

Penulis :
Ahmad Yusuf