Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Tertekan 8 Persen Usai Keputusan MSCI, Analis Nilai Sentimen Bersifat Sementara

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

IHSG Tertekan 8 Persen Usai Keputusan MSCI, Analis Nilai Sentimen Bersifat Sementara
Foto: (Sumber: Seorang wanita berjalan melewati refleksi layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (28/1/2026).ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/bar)

Pantau - Tekanan tajam pada Indeks Harga Saham Gabungan terjadi pada Kamis, 29 Januari 2026, akibat aksi penjualan panik pelaku pasar setelah pengumuman Morgan Stanley Capital International yang menangguhkan proses penyesuaian kembali indeks saham Indonesia.

Tekanan tersebut dipicu oleh kepanikan investor terhadap kebijakan Morgan Stanley Capital International yang membekukan sementara penyesuaian indeks, sehingga memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham.

Pada perdagangan hari itu, Bursa Efek Indonesia menghentikan sementara perdagangan saham pada pukul 09.26 waktu sistem perdagangan otomatis Jakarta setelah IHSG turun 8 persen.

IHSG tercatat melemah 665,89 poin atau 8,00 persen ke posisi 7.654,66 pada sesi pertama perdagangan.

Perdagangan saham kembali dibuka pada pukul 09.56 waktu sistem perdagangan otomatis Jakarta tanpa perubahan jadwal perdagangan.

Ekonom keuangan dan praktisi pasar modal Hans Kwee menilai sentimen negatif yang menekan IHSG bersifat jangka pendek dan tidak mencerminkan tekanan struktural pasar.

“Tekanan yang terjadi lebih karena sentimen jangka pendek akibat kepanikan pasar, bukan karena perubahan fundamental ekonomi,” ungkap Hans Kwee.

Ia memproyeksikan IHSG akan berbalik menguat setidaknya pada pekan depan setelah tekanan pasar mulai mereda.

Namun demikian, Hans Kwee menilai penguatan IHSG ke depan tidak akan terlalu signifikan dan cenderung bergerak mendatar sambil menunggu hasil final dari Morgan Stanley Capital International.

Kekhawatiran pelaku pasar juga dipengaruhi oleh proyeksi Goldman Sachs terkait potensi arus dana keluar dari pasar saham Indonesia.

Goldman Sachs memperkirakan potensi arus keluar dana pasif dari pasar saham Indonesia berada pada kisaran 2,2 miliar hingga 7,8 miliar dolar Amerika Serikat setelah penilaian Morgan Stanley Capital International.

Dalam kondisi koreksi pasar, Hans Kwee merekomendasikan investor untuk memanfaatkan pelemahan harga dengan melakukan aksi beli secara bertahap.

Investor jangka menengah dan panjang disarankan mengakumulasi saham berkapitalisasi besar yang memiliki fundamental kuat.

Penulis :
Ahmad Yusuf