Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Harga BBM Shell dan Pertamina Turun per 1 Februari 2026, Pemerintah Minta Distribusi Tetap Stabil

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Harga BBM Shell dan Pertamina Turun per 1 Februari 2026, Pemerintah Minta Distribusi Tetap Stabil
Foto: (Sumber: Warga melintas di SPBU Shell di Jalan Menteng Raya, Jakarta, Kamis (27/11/2025). ANTARAFOTO/Muhammad Rizky Febriansyah/agr.)

Pantau - Per 1 Februari 2026, Shell Indonesia dan PT Pertamina (Persero) resmi menurunkan harga beberapa jenis bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di wilayah Jabodetabek, di tengah isu keterbatasan pasokan dan fluktuasi harga minyak global.

Daftar Harga Baru BBM Shell dan Pertamina

Penurunan harga terjadi pada hampir semua jenis BBM Shell, meski ketersediaan stok masih terbatas di sejumlah SPBU.

Harga Shell Super turun dari Rp12.700 menjadi Rp12.050, sementara Shell V-Power turun dari Rp13.190 menjadi Rp12.500.

Shell V-Power Nitro+ turun signifikan dari Rp13.480 menjadi Rp12.720, sedangkan V-Power Diesel mengalami penurunan kecil dari Rp13.860 menjadi Rp13.600.

Untuk Pertamina, harga Pertamax (RON 92) turun dari Rp12.350 menjadi Rp11.800, Pertamax Green (RON 95) dari Rp13.150 menjadi Rp12.450, dan Pertamax Turbo (RON 98) dari Rp13.400 menjadi Rp12.700.

Harga Dexlite dan Pertamina Dex juga mengalami penyesuaian menjadi Rp13.250 dan Rp13.500.

Adapun harga BBM bersubsidi seperti Pertalite (Rp10.000) dan Biosolar (Rp6.800) tidak mengalami perubahan.

Pemerintah Minta SPBU Swasta Perkuat Koordinasi Distribusi

Penurunan harga ini terjadi di tengah keterbatasan stok BBM di beberapa SPBU swasta.

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah meminta Shell, bp, dan Vivo untuk berkoordinasi dengan Pertamina dalam menjamin ketersediaan solar dan menjaga kelancaran distribusi.

Langkah penyesuaian harga dinilai sebagai bentuk respons terhadap fluktuasi harga minyak global sekaligus upaya menjaga daya beli konsumen perkotaan.

Pemerintah menegaskan pentingnya stabilitas distribusi di tengah tren penyesuaian harga yang terjadi dalam industri energi nasional.

Penulis :
Gerry Eka