
Pantau - Pendiri Rumah Perubahan, Rhenald Kasali, menekankan pentingnya pemanfaatan big data untuk memilah dan memverifikasi informasi kredibel di tengah arus informasi digital yang semakin deras dan tidak terbendung.
Komunikasi Publik Lebih Cepat Tapi Rentan Disinformasi
Menurut Rhenald, saat ini terdapat dua model komunikasi yang berjalan beriringan: komunikasi massa melalui media arus utama dan komunikasi publik di media sosial yang dilakukan oleh netizen.
"Komunikasi publik ini sekarang dipercayai lebih cepat ketimbang yang melalui proses ini (redaksi), cepat, spontan, dan selalu mengoreksi," ungkapnya.
Namun, kecepatan ini juga membuka celah terhadap penyebaran informasi tidak terverifikasi.
Rhenald menyebut bahwa sekitar separuh dari informasi yang beredar di ruang digital bisa saja benar, sementara sisanya keliru, belum terverifikasi, atau bahkan hoaks.
Bahkan, informasi palsu tersebut kerap disebarkan oleh akun bot yang menyerupai manusia.
"Bisa jadi satu kebohongan, tapi kalau didapat oleh jutaan orang, itu dianggap satu kebenaran. Jadi itu berbahaya, maka harus ada counter narasi. Jadi big data singkatnya itu bisa mencari kebenaran dan bisa menarasikan pertarungan antar media ini," ia mengungkapkan.
Big data dinilai sebagai alat penting untuk memilah informasi berdasarkan sumber, kredibilitas penyampai, dan proporsi keterlibatan manusia atau bot dalam penyebaran isu.
Isu-isu seperti kepercayaan terhadap nilai tukar rupiah atau dampak suatu produk terhadap kesehatan dapat dianalisis lebih dalam menggunakan teknologi ini.
Rumah Perubahan dan Riset Opini Publik Digital
Sejak berdiri pada tahun 1998, Rumah Perubahan berfungsi sebagai pusat edukasi untuk memahami dan mengelola perubahan, termasuk melalui pendekatan praktik langsung di bidang kewirausahaan sosial dan disrupsi.
"Maka orang bisa melihat bahwa kami sendiri juga melakukan perubahan. Tempatnya ada di sini, edukasinya ada di sini," ujar Rhenald.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Deep Intelligence Research, Neni Nur Hayati, turut menjelaskan peran big data dalam penyebaran informasi di era digital yang kompleks.
Menurut Neni, institusi tanpa data yang kuat akan kesulitan membaca realitas publik karena kini realitas dibentuk oleh algoritma dan percakapan digital secara real time.
"Algoritma dikendalikan oleh manusia, tapi manusia juga mengendalikan algoritma," ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa big data menjadi infrastruktur utama dalam memahami pembentukan opini publik, perkembangan tone pemberitaan, serta pergerakan emosi masyarakat.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf
- Editor :
- Tria Dianti







