
Pantau - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta perbankan memberikan penjelasan langsung kepada lembaga pemeringkat Moody's terkait perubahan outlook lima bank besar Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Tanggapan Pemerintah atas Perubahan Outlook Moody's
"Ya, kalau itu kan nanti perlu penjelasan dari masing-masing perbankan kepada Moody's," ungkap Airlangga.
Ia menekankan bahwa semua lembaga pemeringkat, termasuk Moody's, berhak menerima penjelasan terkait hal-hal yang menjadi perhatian mereka.
Airlangga menyatakan bahwa pihak perbankan harus memberikan jawaban yang memadai dan sesuai dengan kondisi masing-masing lembaga.
"Tentu kalau (terkait) korporat kan masing-masing korporat yang merespons. Kalau dari segi nasional, tetap Indonesia di dalam investment grade bagi Moody’s," ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan menanggapi langkah Moody's Ratings yang mengubah outlook lima bank nasional—BCA, Bank Mandiri, BNI, BRI, dan BTN—dari stabil menjadi negatif.
Fokus Moody's dan Respons Pemerintah
Dalam keterangan resminya, Moody’s menyatakan, "Moody’s Ratings mengubah outlook untuk lima bank Indonesia menjadi negatif menyusul perubahan outlook di tingkat sovereign."
Sebelumnya, Moody's mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level Baa2, satu tingkat di atas batas investment grade, namun menurunkan outlook dari stabil menjadi negatif.
Lembaga pemeringkat itu menyoroti pentingnya menjaga prediktabilitas dalam pengambilan kebijakan, komunikasi publik yang efektif, dan koordinasi yang kuat antar-kementerian dan lembaga.
Moody's juga menekankan perlunya memperkuat basis penerimaan negara guna mendukung belanja prioritas serta mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Sebagai respons lanjutan, Airlangga meminta Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) untuk memberikan penjelasan kepada Moody's terkait kepastian arah fiskal Indonesia.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf
- Editor :
- Tria Dianti







