Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Bank Indonesia Optimistis Hilirisasi dan Diversifikasi Ekspor Jaga Neraca Transaksi Berjalan Tetap Sehat di 2026

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Bank Indonesia Optimistis Hilirisasi dan Diversifikasi Ekspor Jaga Neraca Transaksi Berjalan Tetap Sehat di 2026
Foto: Dokumentasi - Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) BI Juli Budi Winantya seusai pertemuan dengan redaktur media massa di Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat 6/2/2026 (sumber: ANTARA/Indra Arief Pribadi)

Pantau - Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa strategi hilirisasi industri dan diversifikasi ekspor akan menjadi kunci dalam menjaga neraca transaksi berjalan Indonesia tetap sehat pada tahun 2026.

Hal tersebut disampaikan oleh Juli Budi Winantya, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) BI, dalam pertemuan bersama redaktur media massa di Pontianak, Kalimantan Barat, pada Sabtu, 7 Februari 2026.

Juli menjelaskan bahwa berdasarkan data neraca perdagangan Desember 2025, terlihat adanya pergeseran pola ekspor yang merupakan dampak dari kebijakan hilirisasi.

"Ekspor tidak lagi hanya berbasis sumber daya alam mentah, tetapi juga mencakup produk industri, termasuk logam dan produk kimia. Komoditas-komoditas tersebut masih menjadi penopang surplus neraca perdagangan," ungkapnya.

Hilirisasi dan Diversifikasi Jadi Kunci Ketahanan Ekonomi

BI menilai neraca transaksi berjalan sebagai indikator penting ketahanan eksternal ekonomi Indonesia karena mencerminkan arus devisa dan kemampuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Neraca transaksi berjalan terdiri dari empat komponen utama, yaitu neraca barang, neraca jasa, neraca pendapatan primer, dan neraca pendapatan sekunder.

Menurut BI, diversifikasi negara tujuan ekspor sangat penting untuk menjaga kinerja neraca perdagangan dan transaksi berjalan, terlebih dalam menghadapi dinamika ekonomi global.

Juli menekankan perlunya mengurangi ketergantungan pada mitra dagang tradisional dan memperluas pasar ekspor ke negara-negara lain, khususnya untuk produk-produk bernilai tambah tinggi.

Tantangan Impor dan Proyeksi Ekonomi

Meskipun prospeknya positif, BI mengakui adanya tantangan dari sisi impor, terutama barang modal dan bahan baku yang masih diperlukan untuk mendukung investasi.

"Namun, ke depan ketergantungan impor diharapkan dapat berkurang seiring kebijakan pemerintah yang mendorong peningkatan produksi dalam negeri, termasuk melalui penerapan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) pada sejumlah sektor seperti kendaraan listrik," ia mengungkapkan.

Dengan kombinasi hilirisasi ekspor, diversifikasi pasar, dan kebijakan substitusi impor, BI yakin neraca transaksi berjalan Indonesia akan tetap berada dalam kondisi sehat.

BI memproyeksikan defisit transaksi berjalan tahun 2026 berada pada kisaran 0,1% hingga 0,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB), sedangkan untuk tahun 2027 berada di kisaran 0,4% hingga 1,2% dari PDB.

Proyeksi ini lebih lebar dibandingkan dengan realisasi defisit transaksi berjalan tahun 2024 yang tercatat sebesar 0,6% dari PDB.

Sementara untuk tahun 2025, BI memperkirakan defisit transaksi berjalan akan berada dalam kisaran 0,1% hingga -0,7% dari PDB.

Dari sisi pertumbuhan ekonomi, BI memproyeksikan pertumbuhan di angka 4,9% hingga 5,7% untuk tahun 2026, dan meningkat menjadi 5,1% hingga 5,9% pada tahun 2027.

Penulis :
Shila Glorya