
Pantau - FTSE Russell menyatakan dukungan terhadap rencana aksi reformasi pasar modal Indonesia yang tengah dijalankan oleh PT Bursa Efek Indonesia bersama Otoritas Jasa Keuangan dan Self-Regulatory Organization.
Pejabat Sementara Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik menyampaikan dukungan tersebut kepada awak media di Jakarta usai pertemuan antara BEI dan FTSE Russell.
Jeffrey menegaskan bahwa FTSE Russell menekankan pentingnya implementasi reformasi sesuai dengan timeline yang telah disampaikan dan menyampaikan apresiasi atas dukungan tersebut.
Penundaan Review Indeks dan Sikap FTSE Russell
Pada Selasa pagi waktu Indonesia, FTSE Russell mengumumkan penundaan review indeks Indonesia untuk periode Maret 2026.
Penundaan tersebut dilakukan karena proses reformasi pasar modal Indonesia masih berlangsung, khususnya terkait transparansi dan keandalan perhitungan free float emiten domestik.
Langkah penundaan bertujuan menghindari distorsi indeks akibat ketidakpastian data serta mengurangi risiko penurunan likuiditas selama masa transisi kebijakan.
Jeffrey menegaskan bahwa kebijakan penundaan tersebut bersifat teknis dan sementara serta tidak berkaitan dengan status klasifikasi pasar saham Indonesia dalam kerangka Equity Country Classification FTSE.
Ia juga menyampaikan bahwa FTSE Russell tidak menyampaikan kekhawatiran terkait country classification Indonesia, berbeda dengan pendekatan yang dilakukan oleh MSCI.
FTSE Russell dijadwalkan mengumumkan hasil review kuartalan berikutnya untuk periode Juni 2026 pada 22 Mei 2026.
Agenda Reformasi dan Kinerja Pasar
OJK, BEI, dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia terus mengakselerasi reformasi struktural pasar modal sebagai tindak lanjut atas masukan MSCI Inc.
Salah satu agenda reformasi adalah perluasan keterbukaan data kepemilikan saham dengan menambahkan pengungkapan kepemilikan saham di atas 1 persen secara bulanan, tidak lagi terbatas di atas 5 persen.
Agenda lainnya adalah penyempurnaan klasifikasi investor dalam Single Investor Identification dengan penambahan 27 subkategori investor pada jenis Corporate dan Others untuk meningkatkan granularitas data.
Reformasi juga mencakup peningkatan ketentuan minimum free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen yang akan diterapkan secara bertahap sebagai bagian dari percepatan penguatan integritas pasar modal.
Pada penutupan perdagangan sesi I Selasa, 10 Februari, Indeks Harga Saham Gabungan menguat 100,87 poin atau 1,25 persen ke posisi 8.132,75.
Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1.524.156 transaksi dengan volume 26,93 miliar saham dan nilai transaksi mencapai Rp11,92 triliun.
Sebanyak 572 saham menguat, 126 saham melemah, dan 118 saham bergerak stagnan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf
- Editor :
- Tria Dianti







