
Pantau - Indonesia telah memanfaatkan hampir 3,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp58,79 triliun dari pendanaan internasional melalui program Just Energy Transition Partnerships (JETP) dan Asia Zero Emission Community (AZEC) untuk mempercepat transformasi menuju ekonomi hijau dan dekarbonisasi.
Pemerintah Fokus pada Investasi Hijau dan Infrastruktur Energi
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa percepatan pelaksanaan program JETP dan AZEC merupakan bagian dari komitmen Indonesia dalam transisi energi bersih.
"Percepatan program AZEC dan JETP merupakan komitmen Indonesia untuk merealisasikan ekonomi hijau dan dekarbonisasi… Dari kedua program tersebut, kami sudah memanfaatkan hampir 3,5 miliar dolar AS," ungkapnya saat hadir dalam acara China Conference Southeast Asia 2026 di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Dari total pembiayaan hijau, Indonesia mendapatkan alokasi dana sebesar 21,4 miliar dolar AS (Rp359,49 triliun) dari JETP dan 500 juta dolar AS (Rp8,39 triliun) dari AZEC.
Di samping pendanaan luar negeri, pemerintah juga mengalokasikan anggaran dari APBN Tahun Anggaran 2026 sebesar Rp404,2 triliun atau 23,95 miliar dolar AS untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mendukung proyek-proyek ekonomi hijau.
Proyek-proyek tersebut mencakup pengembangan Green Energy Corridor Sulawesi (GECS) dan Green Bond Development Facility (GBDF) yang didanai oleh JETP.
Pemerintah juga tengah mengembangkan green supergrid atau jaringan listrik hijau sepanjang 70 kilometer guna mengoptimalkan potensi energi baru terbarukan (EBT) sebesar 3.686 Gigawatt (GW).
Pembangunan PLTSa dan Industri Hijau Dipacu
Melalui perusahaan Danantara Indonesia, pemerintah akan memulai pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) atau waste-to-energy pada bulan Maret 2026.
Beberapa proyek lainnya yang juga tengah diprioritaskan mencakup hilirisasi industri baterai kendaraan listrik dan panel surya, pengembangan bahan bakar nabati B40 hingga B50, Sustainable Aviation Fuels (SAF), serta produksi hidrogen dan ammonia hijau.
Selain itu, pemerintah mulai menerapkan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) serta Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) untuk mendukung target dekarbonisasi.
Pemerintah memproyeksikan bahwa seluruh pengembangan ekonomi hijau ini akan menciptakan hingga 4,4 juta lapangan kerja baru sampai tahun 2029.
Lapangan kerja tersebut akan ditunjang oleh program magang dan pengembangan keterampilan berkelanjutan di berbagai sektor hijau.
"Pemerintah berkomitmen untuk merealisasikan ketahanan energi sebagai prioritas utama nasional, seiring dengan penguatan ketahanan pangan," ia mengungkapkan.
- Penulis :
- Leon Weldrick







