
Pantau - Perusahaan energi nuklir Rusia, Rosatom, menawarkan investasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang diklaim aman dan bersih untuk Kalimantan Barat dalam pertemuan bersama jajaran Pemerintah Provinsi Kalbar di Pontianak, Jumat, yang turut dihadiri Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov.
Perwakilan Rosatom Anna Belokoneva menyampaikan bahwa perusahaan memiliki teknologi pengelolaan PLTN yang telah terbukti aman dan digunakan di berbagai negara.
Ia mengatakan, "Kami memiliki teknologi pengelolaan PLTN yang sudah terbukti aman. Teknologi ini tidak hanya digunakan di Rusia, tetapi juga di sejumlah negara seperti Turki, China, Mesir, dan India,".
Belokoneva menegaskan pihaknya siap berinvestasi di Kalbar dengan menghadirkan teknologi mutakhir yang telah diterapkan di berbagai negara.
Rosatom menawarkan dua opsi teknologi, yakni reaktor modular besar dan reaktor modular kecil atau Small Modular Reactor (SMR).
Untuk reaktor berkapasitas besar, teknologi tersebut mampu menghasilkan listrik hingga 1.200 megawatt.
Sementara itu, reaktor modular kecil dapat memproduksi sekitar 100 megawatt listrik.
Ia mengatakan, "Kami mengusulkan pembangunan PLTN dengan reaktor modular kecil maupun besar, tergantung kebutuhan dan keputusan pemerintah Indonesia,".
Opsi PLTN Terapung dan Jaminan Keamanan
Khusus untuk SMR, Rosatom juga menawarkan teknologi PLTN terapung yang disebut sebagai satu-satunya di dunia saat ini dan telah beroperasi di Rusia selama tujuh tahun.
Menurut Belokoneva, teknologi PLTN terapung dinilai relevan bagi wilayah yang jauh dari pusat pembangkit listrik, termasuk daerah pesisir dan terpencil.
Ia menyampaikan, "Teknologi ini sangat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan listrik di wilayah yang sulit dijangkau. Sistem keamanannya juga pasif dan masif, sesuai standar internasional,".
Belokoneva menegaskan bahwa Rosatom telah mempelajari berbagai insiden nuklir global, termasuk kebocoran reaktor di Fukushima, Jepang, serta memastikan teknologi yang ditawarkan telah mengantisipasi risiko serupa.
Ia mengatakan, "Kami memahami kekhawatiran masyarakat terkait keamanan PLTN. Namun standar yang kami miliki sangat tinggi. Di Rusia sendiri terdapat 11 PLTN dan masyarakat tetap hidup serta beraktivitas di sekitarnya,".
Selain faktor keamanan, Rosatom mengklaim biaya listrik dari PLTN relatif lebih murah dalam jangka panjang karena efisiensi produksi dan prinsip transparansi dalam pengelolaan.
Belokoneva menegaskan bahwa keputusan pembangunan PLTN sepenuhnya berada di tangan pemerintah Indonesia.
Ia menyampaikan, "Kami hanya menawarkan. Jika pemerintah Indonesia menyambut baik, tentu kami siap melaksanakan pembangunan sesuai prosedur dan regulasi yang berlaku,".
Belokoneva menambahkan bahwa pihaknya mengetahui adanya rencana pengembangan sejumlah tapak PLTN di Indonesia, termasuk di Kalimantan Barat, sehingga menawarkan kerja sama sebagai bentuk dukungan terhadap rencana strategis energi nasional.
Respons Pemerintah dan Peluang Kerja Sama
Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov menyampaikan bahwa kunjungan ke Kalbar merupakan bagian dari upaya memperkenalkan teknologi Rusia sekaligus menjajaki kerja sama konkret dengan pemerintah daerah.
Ia mengatakan, "Kami ingin menawarkan penerapan teknologi pengelolaan PLTN yang mumpuni sekaligus membuka peluang kerja sama di bidang lain seperti pembangunan pabrik pengolahan aluminium dan pendidikan,".
Tolchenov menyebut dari hasil pertemuan dengan Gubernur Kalbar, pihaknya melihat adanya respons positif sebagai langkah awal penjajakan kerja sama.
Ia menegaskan, "Kami menunggu respons resmi dari pemerintah Indonesia dan Kalbar. Jika ada ruang kerja sama, kami siap menindaklanjutinya,".
Realisasi proyek PLTN tersebut tetap bergantung pada kesiapan dan keputusan resmi Pemerintah Indonesia serta Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.
Penawaran Rosatom ini menambah daftar opsi pengembangan energi di Kalimantan Barat guna memperkuat ketahanan energi dan mendukung hilirisasi industri berbasis sumber daya alam di daerah.
- Penulis :
- Shila Glorya







