
Pantau - Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan pemanfaatan Sistem Resi Gudang (SRG) terus dioptimalkan untuk mendukung ekspor komoditas Indonesia ke pasar global, yang salah satunya terealisasi melalui ekspor rumput laut sebanyak 75 ton jenis Eucheuma cottonii ke Tiongkok dengan nilai mencapai 100.215 dolar AS atau sekitar Rp1,7 miliar.
Ekspor rumput laut tersebut dilakukan melalui gudang SRG milik PT Asia Sejahtera Mina AsiaMina yang berlokasi di Maros, Sulawesi Selatan.
Gudang tersebut merupakan satu dari tujuh gudang yang dikelola oleh PT Wahana Pronatural Tbk (PT WAPO).
Budi Santoso mengatakan, "Akses pasar komoditas yang disimpan dalam gudang SRG juga diperluas melalui kegiatan pitching dan penjajakan bisnis business matching yang difasilitasi Atase Perdagangan RI dan Indonesia Trade Promotion Center ITPC di 33 negara."
Optimalisasi SRG untuk Perluasan Pasar Ekspor
Kementerian Perdagangan terus memperluas akses pasar internasional melalui kerja sama dengan pemerintah daerah, lembaga pembiayaan, pengelola gudang SRG, serta para eksportir.
Sistem Resi Gudang juga akan diintegrasikan dengan program Desa Bisa Ekspor (DBE) agar dapat dimanfaatkan pelaku usaha termasuk petani dan nelayan.
Melalui program tersebut, produk unggulan seperti rumput laut dari desa dapat disimpan di gudang SRG dan dijual saat harga pasar sedang menguntungkan.
Budi Santoso menjelaskan bahwa SRG tidak hanya berfungsi sebagai instrumen tunda jual komoditas.
Ia menegaskan bahwa sistem tersebut juga membuka akses pasar yang lebih luas bagi komoditas yang disimpan di gudang.
Selain itu, SRG menyediakan informasi mengenai ketersediaan, sebaran, mutu, serta nilai komoditas yang tersimpan.
Sistem tersebut juga memberikan tingkat kepercayaan dan keamanan yang lebih besar dalam transaksi perdagangan.
Program Desa Bisa Ekspor Perkuat Ekosistem Perdagangan Desa
Program Desa Bisa Ekspor bertujuan memperkuat ekosistem ekspor di tingkat desa.
Program ini dijalankan melalui enam pilar strategi yang meliputi penguatan sumber daya manusia ekspor.
Pilar berikutnya adalah pengembangan produk unggulan desa.
Strategi lainnya mencakup peningkatan produktivitas dan pemanfaatan teknologi.
Program tersebut juga menitikberatkan pada penguatan sektor logistik.
Selain itu, dukungan pembiayaan bagi pelaku usaha turut menjadi bagian dari program.
Pilar terakhir adalah promosi serta perluasan akses pasar ekspor.
Di tengah tantangan perdagangan global serta penurunan harga komoditas, Indonesia tetap berupaya meningkatkan ekspor ke berbagai negara.
Pemerintah juga mengambil berbagai langkah antisipatif terhadap dinamika dan ketidakpastian situasi geopolitik global untuk menjaga stabilitas perdagangan nasional.
Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Tirta Karma Senjaya menyampaikan bahwa nilai ekspor rumput laut Indonesia ke dunia pada 2025 mencapai 317,55 juta dolar AS.
Ia mengatakan, "SRG memiliki peran yang strategis dalam mendukung ekspor komoditas unggulan di berbagai wilayah Indonesia. Selain itu, pengelola gudang SRG memiliki peluang untuk meningkatkan kompetensi dan komunikasi, sehingga mampu memperluas akses pasar ekspor bagi produk yang mereka kelola."
Negara tujuan utama ekspor rumput laut Indonesia meliputi Tiongkok, Amerika Serikat, Spanyol, Jepang, dan Belanda.
- Penulis :
- Arian Mesa








