HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Melemah ke 7.559,38 Dipicu Keputusan MSCI Bekukan Rebalancing Mei 2026

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

IHSG Melemah ke 7.559,38 Dipicu Keputusan MSCI Bekukan Rebalancing Mei 2026
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia ditutup melemah 34,73 poin atau 0,46 persen ke posisi 7.559,38 pada Selasa sore, dipengaruhi sentimen negatif dari keputusan MSCI yang masih membekukan rebalancing indeks saham Indonesia untuk Mei 2026.

Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan turut melemah 12,18 poin atau 1,61 persen ke posisi 743,67.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menyatakan bahwa sentimen negatif utama berasal dari keputusan MSCI yang belum membuka kembali rebalancing indeks saham Indonesia.

Sentimen MSCI Masih Membayangi Pasar

Berdasarkan pengumuman MSCI pada Senin (20/4/2026), lembaga tersebut mengakui upaya otoritas Indonesia dalam melakukan reformasi transparansi pasar modal.

MSCI masih akan mengevaluasi konsistensi dan efektivitas kebijakan baru, terutama terkait peningkatan transparansi data kepemilikan saham dan rencana kenaikan batas minimum free float menjadi 15 persen.

Investor juga mencermati potensi penghapusan saham yang masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC) oleh MSCI.

Meskipun demikian, kekhawatiran mengenai kemungkinan penurunan status pasar modal Indonesia dari emerging market ke frontier market mulai mereda.

MSCI tetap mempertahankan kebijakan sebelumnya untuk Indonesia, meliputi pembekuan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS).

MSCI juga membekukan penambahan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI).

Selain itu, tidak ada perpindahan naik antar segmen indeks, termasuk dari Small Cap ke Standard.

Pergerakan Sektoral dan Bursa Asia

IHSG dibuka melemah dan bertahan di zona merah hingga akhir sesi pertama perdagangan.

Pada sesi kedua, IHSG tetap berada di teritori negatif hingga penutupan perdagangan.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, delapan sektor mengalami penguatan, dipimpin sektor industri yang naik 2,71 persen.

Sektor barang baku naik 2,22 persen dan sektor transportasi dan logistik naik 1,76 persen.

Tiga sektor melemah, yaitu sektor energi turun 1,07 persen, sektor kesehatan turun 0,12 persen, dan sektor infrastruktur turun 0,04 persen.

Saham dengan kenaikan terbesar meliputi BOBA, LAND, LCKM, RODA, dan CTTH.

Saham dengan penurunan terbesar antara lain DSSA, POLU, IFSH, BREN, dan IDEA.

Frekuensi perdagangan mencapai 2.706.602 kali transaksi.

Total volume saham yang diperdagangkan mencapai 43,33 miliar lembar dengan nilai transaksi Rp17,90 triliun.

Sebanyak 386 saham menguat, 264 saham melemah, dan 168 saham stagnan.

Dari faktor global, bursa saham Asia justru menguat karena adanya tanda kemajuan diplomatik di kawasan Timur Tengah.

Pelaku pasar menantikan putaran kedua pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Optimisme meningkat setelah Iran berpotensi bergabung dalam pembicaraan menjelang tenggat gencatan senjata.

Iran berencana mengirim perwakilan untuk berdiskusi dengan Wakil Presiden AS JD Vance di Pakistan pada Selasa malam.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan kemungkinan tidak memperpanjang gencatan senjata jika tidak ada kesepakatan dengan Iran dalam pekan ini.

Bursa saham Asia lainnya ditutup menguat, termasuk indeks Nikkei naik 0,88 persen ke 59.345,00.

Indeks Shanghai naik 0,07 persen ke 4.085,08.

Indeks Hang Seng naik 0,48 persen ke 26.487,48.

Indeks Straits Times naik 0,09 persen ke 5.009,50.

Penulis :
Arian Mesa