
Pantau - Bank Indonesia meluncurkan program Aksi Kuatkan Literasi dan Inklusi Keuangan untuk Kesejahteraan atau AKSI KLIK guna mempersempit kesenjangan antara literasi keuangan dan inklusi keuangan masyarakat di tengah pesatnya digitalisasi layanan keuangan.
Peluncuran program tersebut disampaikan oleh Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam acara peluncuran program AKSI KLIK dan AKU BISA SEJAHTERA yang diikuti secara daring dari Jakarta.
Perry Warjiyo mengatakan "Meningkatkan inklusi keuangan idealnya diimbangi oleh peningkatan literasi keuangan."
Ia menambahkan "Masalahnya tidak hanya soal masyarakat bisa menggunakan account, QRIS, maupun yang lain, tapi bagaimana mereka itu terliterasi."
Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan Tahun 2025, tingkat inklusi keuangan masyarakat Indonesia tercatat lebih tinggi dibandingkan tingkat literasi keuangan.
Jika dihitung menggunakan indikator produk keuangan dan pembayaran yang berada di bawah pengawasan OJK dan Bank Indonesia serta mencakup produk dari BPJS dan lembaga jasa keuangan lainnya, indeks inklusi keuangan mencapai 92,74 persen.
Sementara itu indeks literasi keuangan masyarakat masih berada di angka 66,64 persen.
Perry Warjiyo menegaskan bahwa peningkatan literasi keuangan menjadi penting agar masyarakat tidak hanya mampu mengakses produk keuangan, tetapi juga memahami risiko serta terlindungi dari berbagai bentuk kejahatan digital seperti pinjaman online ilegal.
Bank Indonesia juga terus mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan melalui berbagai program internal serta sinergi dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, OJK, sektor perbankan, dan berbagai kementerian serta lembaga lainnya.
Upaya tersebut dilakukan seiring dengan percepatan digitalisasi sistem pembayaran di Indonesia melalui berbagai inovasi seperti Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS, BI-Fast, serta layanan pembayaran digital lainnya.
Perry Warjiyo mengatakan "Sekarang QRIS tahun ini sudah hampir masif digunakan, penggunanya hampir 60 juta."
Ia melanjutkan "Kurang lebih tahun ini 50 juta penggunanya adalah UMKM."
Ia menegaskan "Oleh karena itu, akselerasi digitalisasi sistem pembayaran perlu terus diimbangi dengan penguatan literasi keuangan."
Bank Indonesia Susun Tiga Buku Panduan Literasi Keuangan
Dalam rangka mendukung program AKSI KLIK, Bank Indonesia menyusun tiga buku panduan yang berfokus pada peningkatan literasi keuangan digital dan penguatan usaha berkelanjutan.
Buku pertama berisi strategi dan program edukasi literasi keuangan digital yang bertujuan mendorong kesejahteraan keuangan masyarakat.
Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Inklusif dan Hijau Bank Indonesia Anastuty K menjelaskan bahwa buku tersebut menekankan tiga sasaran utama dalam mencapai kesejahteraan keuangan.
Tiga sasaran tersebut meliputi pemenuhan kebutuhan dan kewajiban finansial, ketahanan keuangan, serta keberlanjutan keuangan.
Buku kedua merupakan panduan modul edukasi keuangan digital yang ditujukan untuk pelatihan tingkat dasar bagi berbagai kelompok masyarakat.
Segmen prioritas dalam program literasi keuangan tersebut meliputi pelaku UMKM, masyarakat berpenghasilan rendah, pelajar, mahasiswa, santri, pemuda, penyandang masalah kesejahteraan sosial, masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T, perempuan, serta pekerja migran.
Materi edukasi dalam modul tersebut mencakup pengenalan uang, pengelolaan anggaran atau budgeting, transaksi keuangan, produk dan layanan keuangan, serta perlindungan terhadap risiko keuangan.
Buku ketiga merupakan penyempurnaan dari Pedoman Pengembangan UMKM Hijau yang sebelumnya telah diluncurkan oleh Bank Indonesia.
Pedoman tersebut juga diselaraskan dengan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia versi 3.
Pedoman terbaru tersebut difokuskan pada aksi mitigasi untuk membantu pelaku UMKM bertransisi menuju praktik usaha yang lebih berkelanjutan.
Melalui pedoman tersebut, UMKM diharapkan dapat memahami standar keberlanjutan usaha serta meningkatkan peluang memperoleh sertifikasi hijau dan memperluas akses pembiayaan hijau dari sektor perbankan.
Program AKU BISA SEJAHTERA Dorong Pembiayaan UMKM
Pada kesempatan yang sama Bank Indonesia juga meluncurkan program Akses Keuangan melalui Business Matching dan Literasi untuk Kesejahteraan Keuangan atau AKU BISA SEJAHTERA.
Anastuty K menjelaskan bahwa program tersebut dilatarbelakangi oleh perlambatan penyaluran kredit kepada sektor UMKM.
Berdasarkan data terbaru, pertumbuhan kredit UMKM tercatat mengalami kontraksi hingga minus 0,53 persen.
Penurunan penyaluran kredit tersebut dipengaruhi oleh faktor penawaran dan permintaan.
Dari sisi penawaran, sektor perbankan cenderung lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit terutama kepada sektor usaha mikro.
Sementara dari sisi permintaan, melemahnya daya beli masyarakat terutama kelompok menengah ke bawah membuat pelaku UMKM menahan ekspansi usaha dan enggan menambah pinjaman baru.
Melalui program AKU BISA SEJAHTERA, Bank Indonesia berupaya memfasilitasi kegiatan business matching pembiayaan antara pelaku UMKM dan lembaga keuangan.
Anastuty mengatakan kegiatan tersebut akan dilaksanakan secara intensif mulai bulan ini hingga Agustus mendatang.
Program tersebut juga melibatkan berbagai kementerian dan lembaga yang memiliki program pembinaan terhadap UMKM.
- Penulis :
- Leon Weldrick








