Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

BEI Pastikan Sistem Bursa Siap Hadapi Gejolak IHSG di Tengah Eskalasi Konflik Global

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

BEI Pastikan Sistem Bursa Siap Hadapi Gejolak IHSG di Tengah Eskalasi Konflik Global
Foto: Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik bersama Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSE) Samsul Hidayat memaparkan materi dalam Konferensi Pers di Gedung BEI, Jakarta, Selasa 03/03/2026 (sumber: ANTARA/Muhammad Heriyanto)

Pantau - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan sistem infrastruktur dan peraturan pasar modal telah siap menghadapi potensi gejolak pasar saham yang dipicu eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

Penjabat Sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyampaikan volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini dipicu oleh faktor eksternal yang terjadi di tingkat global.

Pernyataan tersebut disampaikan Jeffrey Hendrik setelah menghadiri acara Empowering Sharia Investment Journey with IDX Mobile Sharia di Gedung BEI Jakarta pada Senin.

Ia menjelaskan gejolak yang terjadi tidak hanya mempengaruhi pasar saham Indonesia tetapi juga terjadi pada berbagai bursa saham di dunia.

"Kalau kita lihat kan memang faktor eksternal yang sedang terjadi ini menimbulkan ketidakpastian yang sangat tinggi. Tidak hanya di pasar kita, tetapi juga di global market," ungkapnya.

Gejolak Global Picu Volatilitas IHSG

Jeffrey Hendrik menilai pola gejolak pasar saham Indonesia saat ini memiliki kemiripan dengan kondisi yang pernah terjadi pada April 2025.

Ia menjelaskan pada periode tersebut pasar saham global mengalami tekanan akibat kebijakan tarif resiprokal yang dikeluarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Kebijakan tersebut saat itu menimbulkan tekanan besar terhadap pasar saham global terutama di negara-negara emerging market termasuk Indonesia.

"Tetapi. kalau kita bandingkan dengan fenomena yang terjadi tahun lalu di bulan April, di mana AS juga mengeluarkan kebijakan yang tidak diantisipasi oleh publik pada saat itu, itu juga mengakibatkan penurunan pasar yang sangat tajam," ujarnya.

BEI Pastikan Infrastruktur Pasar Modal Siap

Jeffrey Hendrik menilai tekanan yang dialami pasar saham Indonesia pada tahun lalu bahkan lebih buruk dibandingkan kondisi yang terjadi saat ini.

Ia menegaskan BEI telah menyiapkan sistem infrastruktur dan regulasi pasar modal untuk menghadapi dinamika yang dipicu gejolak ekonomi maupun politik global.

"Pada saat itu apa yang kita alami lebih buruk dalam konteks pasar daripada hari ini. Jadi oleh karena itu, sistem infrastruktur dan peraturan di bursa kita sudah siap untuk menghadapi dinamika pasar yang sedang ada," ujarnya.

Berdasarkan data penutupan perdagangan BEI pada Senin 9 Maret sore IHSG ditutup melemah 248,32 poin atau 3,27 persen ke posisi 7.337,37.

Pada perdagangan hari yang sama pukul 09.12 WIB IHSG sempat turun hingga 421,82 poin atau 5,56 persen ke level 7.163,86.

Bursa saham regional Asia pada penutupan perdagangan juga mengalami pelemahan.

Indeks Nikkei melemah 2.892,10 poin atau 5,20 persen ke posisi 56.728,69.

Indeks Shanghai melemah 27,58 poin atau 0,67 persen ke posisi 4.096,60.

Indeks Hang Seng melemah 348,82 poin atau 1,35 persen ke posisi 25.408,46.

Indeks Strait Times melemah 91,64 poin atau 1,89 persen ke posisi 4.756,60.

Penulis :
Leon Weldrick