
Pantau - Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menyatakan masyarakat perlu mendapatkan edukasi terkait ketersediaan stok bahan bakar minyak di Indonesia agar tidak terjadi kekhawatiran berlebihan.
Ia menjelaskan stok operasional BBM yang cukup untuk sekitar 20 hari berkaitan dengan kapasitas daya tampung atau storage BBM yang dimiliki Indonesia.
Komaidi menegaskan kondisi tersebut tidak berarti cadangan BBM akan habis setelah periode tersebut.
Ia mengatakan bahwa "Setelah 20 hari, stok di storage itu akan bisa diisi lagi. Jadi sebenarnya ini kondisi baik-baik saja".
Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangannya di Jakarta pada Jumat.
Menurutnya pemahaman masyarakat mengenai sistem penyimpanan dan distribusi BBM perlu ditingkatkan agar tidak menimbulkan kepanikan.
Komaidi membandingkan kapasitas penyimpanan BBM Indonesia dengan beberapa negara di kawasan Asia Pasifik.
Vietnam disebut hanya memiliki kapasitas penyimpanan BBM sekitar 15 hari.
Laos memiliki kapasitas storage BBM sekitar 10 hari.
Sementara Australia memiliki kapasitas penyimpanan BBM hingga sekitar 50 hari.
Jepang bahkan memiliki ketersediaan stok BBM hingga sekitar 254 hari.
Kapasitas besar tersebut dimiliki Jepang karena negara tersebut bukan penghasil BBM sehingga membutuhkan daya tampung yang lebih besar.
Komaidi mengatakan bahwa "Mari sampaikan kepada khalayak agar tidak perlu ada kekhawatiran kalau memasuki Idul Fitri nanti stok BBM akan habis".
Komaidi juga menyarankan pemerintah dan Pertamina meningkatkan kapasitas penyimpanan stok nasional untuk minyak mentah dan hasil olahan minyak.
Saat ini kapasitas stok nasional rata-rata hanya cukup untuk sekitar 14 hingga 30 hari.
Ia mengatakan bahwa "Setidaknya Indonesia itu mampu menyamai Australia yang sampai 50 hari".
Terkait ketegangan di Timur Tengah yang belum mereda, Komaidi berharap pemerintah dapat mengalihkan jalur impor BBM dari Selat Hormuz ke jalur lain.
Ia menjelaskan masih banyak negara pemasok BBM yang tidak terlibat dalam konflik tersebut.
Namun pengalihan jalur impor yang tidak melewati Selat Hormuz berpotensi meningkatkan biaya operasional.
Komaidi mengatakan bahwa "Pemerintah tinggal menambah cost impornya saja sehingga kecukupan pasokan BBM kita tidak terpengaruh dengan situasi perang Iran vs Israel dan AS".
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








