Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Permintaan Pisang Gulung Wijen Magetan Naik 40 Persen Jelang Lebaran 2026

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Permintaan Pisang Gulung Wijen Magetan Naik 40 Persen Jelang Lebaran 2026
Foto: (Sumber: Sejumlah pekerja UMKM Berkah Ridho di Panekan Kabupaten Magetan, Jatim sedang mengepak jajanan pisang gulung wijen yang penjualannya meningkat 40 persen dari hari biasa menjelang Lebaran 2026. ANTARA/HO-Diskominfo Kab Magetan.)

Pantau - Penjualan jajanan khas pisang gulung wijen dari Magetan mengalami peningkatan menjelang Lebaran 2026 seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat selama bulan Ramadhan.

Jajanan tersebut banyak dibeli untuk sajian berbuka puasa maupun sebagai oleh-oleh Lebaran.

Pemilik UMKM Berkah Ridho Lili Rusmiata menyatakan penjualan produk meningkat sekitar 40 persen dibanding hari biasa.

Ia menyebut produk yang mengalami kenaikan paling tinggi adalah pisang gulung wijen yang menjadi produk unggulan usahanya.

Pesanan Datang dari Pembelian Daring

Sebagian besar pesanan berasal dari pembelian daring dan toko oleh-oleh di wilayah Magetan dan sekitarnya.

Selain itu terdapat pula pesanan dari masyarakat yang membeli untuk sajian berbuka puasa.

Dalam kondisi normal produksi camilan di UMKM tersebut mencapai sekitar 1.000 hingga 1.500 pak per hari.

Dalam satu bulan jumlah produksi dapat mencapai sekitar 45.000 pak berbagai jenis camilan.

Selain pisang gulung wijen usaha tersebut juga memproduksi kacang gulung wijen.

Produk lainnya adalah kacang karamel serta pisang karamel.

Selama bulan Ramadhan usaha tersebut juga memproduksi berbagai jenis kue kering.

Jenis kue kering yang dibuat antara lain nastar nanas, nastar kurma, kastengel, dan cokelat mente.

Serap Tenaga Kerja Warga Sekitar

Meskipun harga bahan baku mengalami kenaikan pemilik usaha tetap menjaga harga produk agar tetap terjangkau.

Harga pisang karamel misalnya masih dijual sekitar Rp9.000 hingga Rp10.000 per pak.

Usaha tersebut telah dijalankan sejak tahun 2014.

Bahan baku utama yang digunakan adalah pisang Raja Nangka karena memiliki rasa manis dan tekstur yang cocok untuk digoreng.

Pisang tersebut dipasok dari daerah Lamongan dan Boyolali.

Pasokan tersebut dikirim secara rutin ke Magetan untuk memenuhi kebutuhan produksi.

Dalam satu minggu kebutuhan pisang untuk produksi mencapai sekitar 1,5 ton.

UMKM tersebut juga menyerap tenaga kerja dari warga sekitar.

Saat ini terdapat sekitar 25 pekerja yang membantu proses produksi termasuk pekerja musiman.

Pemilik usaha berharap usahanya terus berkembang di masa mendatang.

Ia juga berencana membangun tempat produksi yang lebih besar.

Tempat produksi tersebut diharapkan dapat dikembangkan menjadi lokasi wisata kuliner berbasis UMKM.

Penulis :
Gerry Eka