Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

MPR Sebut Transisi Kompor Listrik Lebih Hemat Dibandingkan Beban Impor LPG

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

MPR Sebut Transisi Kompor Listrik Lebih Hemat Dibandingkan Beban Impor LPG
Foto: (Sumber : Seorang ibu rumah tangga memasak menggunakan kompor listrik induksi di Kelurahan Ampenan Tengah, Mataram, NTB, Minggu (30/11/2025). ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/nz.)

Pantau - Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menyatakan transisi penggunaan kompor LPG ke kompor listrik dinilai lebih murah dibandingkan biaya impor dan subsidi LPG.

“Kami sudah hitung, masih akan lebih murah (transisi ke kompor listrik) daripada mengimpor LPG,” ungkap Eddy.

Perhitungan Hemat Anggaran Negara

Eddy menjelaskan perhitungan tersebut telah dilakukan bersama PLN sejak 2022 saat dirinya menjabat di Komisi VII DPR yang membidangi sektor energi.

Berdasarkan data tersebut, konversi ke kompor induksi mampu menghemat APBN hingga Rp330 miliar per tahun untuk 300 ribu keluarga penerima manfaat.

Biaya transisi mencakup pemberian kompor listrik, dua wajan, serta pemasangan sambungan listrik terpisah secara gratis.

Ketergantungan Impor LPG Jadi Sorotan

Menurut Eddy, tingginya impor LPG yang mencapai 75 persen dari kebutuhan nasional menjadi beban besar bagi negara.

Harga LPG juga sangat dipengaruhi harga minyak dunia yang saat ini berada di atas 100 dolar AS per barel.

“Jika kebijakan kompor listrik diberlakukan, kita harus pastikan kapasitas produksi kompor listrik nasional bisa memenuhinya, agar kita tidak impor kompornya,” ujarnya.

Eddy menambahkan pemerintah perlu mempercepat program elektrifikasi di berbagai sektor, termasuk rumah tangga, guna mengurangi ketergantungan energi impor.

Penulis :
Ahmad Yusuf