
Pantau - Konflik di kawasan Teluk dinilai menjadi alarm serius bagi ketahanan sektor perikanan Indonesia karena dampaknya dapat merambat hingga ke sistem logistik, produksi, dan distribusi nasional.
Dampak geopolitik tersebut tidak hanya memengaruhi stabilitas global, tetapi juga meningkatkan biaya energi yang berimbas langsung pada sektor perikanan.
Kenaikan Energi Tekan Nelayan dan Budidaya
Kenaikan harga energi akibat konflik berdampak pada seluruh rantai produksi perikanan, mulai dari operasional kapal hingga distribusi hasil tangkapan.
Nelayan menjadi kelompok paling terdampak karena biaya melaut meningkat sementara harga jual tidak selalu mengikuti.
Kondisi ini membuat nelayan kecil berada dalam posisi rentan karena keterbatasan modal dan lemahnya daya tawar di pasar.
Di sektor budidaya, kenaikan biaya logistik dan pakan juga menekan pelaku usaha, terutama skala kecil dan menengah.
Sistem Perikanan Dinilai Masih Rentan
Ketergantungan tinggi terhadap energi dan logistik membuat sistem perikanan Indonesia dinilai masih sensitif terhadap guncangan global.
Ancaman tersebut tidak hanya berasal dari konflik eksternal, tetapi juga dari kelemahan struktural di dalam negeri.
Sistem yang besar belum tentu tangguh jika distribusi dan efisiensi belum optimal.
Ketahanan perikanan tidak hanya ditentukan oleh jumlah produksi, tetapi juga kemampuan menjaga distribusi yang efisien, kualitas produk, dan keterjangkauan harga bagi masyarakat.
- Penulis :
- Aditya Yohan







