
Pantau - Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) memperingatkan konflik di Timur Tengah berpotensi menurunkan pertumbuhan ekonomi kawasan Asia dan Pasifik hingga 1,3 poin persentase pada periode 2026–2027.
Dampak Energi dan Inflasi Mengancam
ADB menyebut konflik dapat memicu kenaikan inflasi hingga 3,2 poin persentase apabila disrupsi energi berlangsung lebih dari satu tahun.
“Konflik tersebut berdampak pada perekonomian di Asia dan Pasifik melalui kenaikan harga energi, disrupsi rantai pasokan dan perdagangan, serta kondisi keuangan yang semakin ketat,” ungkap Kepala Ekonom ADB Albert Park.
Ia menambahkan sektor pariwisata dan remitansi juga berpotensi terdampak akibat ketidakstabilan tersebut.
ADB memaparkan tiga skenario risiko, di mana dampak ekonomi sangat bergantung pada durasi konflik dan gangguan pasokan energi.
Rekomendasi Kebijakan Hadapi Ketidakpastian
ADB menilai disrupsi energi berkepanjangan dapat memaksa negara berkembang menghadapi dilema antara perlambatan pertumbuhan dan lonjakan inflasi.
“Disrupsi pasokan energi yang berkepanjangan dapat memaksa perekonomian di kawasan Asia dan Pasifik yang sedang berkembang untuk menghadapi dilema sulit antara pertumbuhan yang melambat dan inflasi yang meningkat,” ujarnya.
Untuk itu, ADB merekomendasikan sejumlah langkah, antara lain menjaga stabilitas harga tanpa distorsi berlebihan, memberikan bantuan fiskal terarah bagi kelompok rentan, serta memastikan kebijakan moneter tetap hati-hati.
Selain itu, pemerintah juga didorong menghemat energi melalui kebijakan efisiensi seperti pembatasan penggunaan listrik, promosi transportasi umum, hingga penerapan kerja dari rumah.
Sebagai penutup, ADB menekankan pentingnya kebijakan yang adaptif untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global akibat konflik geopolitik.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







