
Pantau - Amerika Serikat mengizinkan kapal tanker Rusia mengirim sekitar 730.000 barel minyak mentah ke Kuba di tengah blokade energi yang telah berlangsung selama beberapa bulan terhadap negara Karibia tersebut.
Kapal tanker tersebut diperkirakan akan berlabuh di terminal minyak Matanzas, Kuba, pada Selasa dengan membawa pasokan yang dapat menopang kebutuhan energi negara itu selama beberapa pekan.
Laporan tersebut disampaikan New York Times pada Minggu (29/3) yang menyebutkan langkah tersebut dapat membantu meredakan tekanan energi yang tengah dihadapi Kuba.
Krisis energi di negara itu sebelumnya dipicu oleh blokade minyak yang diberlakukan pemerintah Amerika Serikat sejak Januari 2026.
Blokade Energi Perburuk Krisis di Kuba
Blokade minyak Amerika Serikat terhadap Kuba telah menyebabkan berbagai dampak serius terhadap kondisi ekonomi dan sosial di negara tersebut.
Kebijakan tersebut memicu pemadaman listrik, kelangkaan bahan bakar, lonjakan harga, serta memburuknya layanan kesehatan.
Dalam beberapa kasus sebelumnya, Amerika Serikat bahkan mengusir kapal tanker yang berusaha mengirimkan bahan bakar ke Kuba.
Namun dalam kasus terbaru ini, kapal tanker Rusia diizinkan melintas tanpa perintah pencegatan meskipun Penjaga Pantai Amerika Serikat memiliki dua kapal patroli di perairan Kuba yang dapat menghentikan perjalanan kapal tersebut.
Langkah itu dinilai sebagai upaya Washington untuk menghindari konfrontasi langsung dengan Rusia.
Ketegangan Politik AS dan Kuba Meningkat
Di tengah situasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan mengisyaratkan kemungkinan langkah keras terhadap Kuba.
Trump bahkan mengatakan dirinya "mendapat kehormatan untuk menguasai Kuba" setelah konflik dengan Iran.
Sementara itu Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menilai perubahan sistem pemerintahan diperlukan untuk memperbaiki kondisi ekonomi negara tersebut.
"Ekonomi Kuba perlu berubah, dan ekonomi mereka tak bisa berubah kecuali sistem pemerintahan mereka berubah," kata Rubio dalam sebuah pernyataan.
Menanggapi situasi tersebut, pemerintah Kuba menyatakan kesiapan menghadapi kemungkinan konflik dengan Amerika Serikat.
"Militer kami selalu siap dan, sebenarnya, saat ini sedang mempersiapkan diri untuk kemungkinan agresi militer," ungkap Wakil Menteri Luar Negeri Kuba Carlos Fernandez de Cossio kepada NBC News.
Meski demikian, pemerintah Kuba berharap ketegangan tersebut tidak berkembang menjadi konflik militer.
- Penulis :
- Aditya Yohan







