
Pantau - Ekonom Universitas Gadjah Mada Eddy Junarsin meminta pemerintah merumuskan kebijakan yang langsung menyentuh kebutuhan dasar masyarakat di tengah dampak krisis Selat Hormuz.
Dampak Krisis dan Rekomendasi Kebijakan
Eddy menilai ketidakpastian global akibat krisis Selat Hormuz berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar minyak dan terganggunya distribusi komoditas.
Ia menekankan pentingnya kebijakan yang berfokus pada kebutuhan dasar seperti pangan, energi, tempat tinggal, pendidikan, dan lapangan kerja.
“Misalnya, kebijakan diarahkan ke survival dan intermediate ranges, seperti ketersediaan makanan, tempat tinggal, energi, sekolah. Lapangan pekerjaan yang terpangkas perlu dibantu pemerintah melalui bantuan pengangguran sementara dan penyaluran pekerjaan di daerah/industri yang memungkinkan,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi ini dapat memicu efek domino terhadap perekonomian nasional.
“Akibatnya, kemungkinan inflasi dapat meningkat, pertumbuhan ekonomi terancam stagnan, tingkat pengangguran tidak membaik, rupiah merosot, surplus neraca perdagangan menyusut,” kata Eddy.
Peran Masyarakat Hadapi Tekanan Ekonomi
Selain pemerintah, masyarakat juga diminta untuk beradaptasi menghadapi situasi krisis global tersebut.
Eddy menilai diperlukan sikap kolaboratif serta kemampuan berinovasi dalam mencari peluang usaha baru.
“Untuk masyarakat sendiri, perlu menyadari bahwa ini situasi luar biasa yang membutuhkan unity dan collaboration. Pikirkan dan coba berbagai ide pekerjaan maupun usaha, jadi harus dinamis dan tidak statis,” tuturnya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk fokus pada solusi dan mengurangi konflik yang tidak relevan dalam menghadapi tekanan ekonomi.
Langkah seperti membuka peluang usaha baru dan berkolaborasi dinilai dapat membantu masyarakat bertahan di tengah ketidakpastian global.
- Penulis :
- Aditya Yohan








