
Pantau - Pengamat ekonomi Universitas Jember Ciplis Gema Qori'ah menegaskan reformasi energi harus segera dilakukan di tengah krisis energi global yang dipicu konflik geopolitik.
Dampak Konflik Global terhadap Energi
Ciplis menyebut konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah berkembang menjadi gangguan nyata terhadap stabilitas energi dunia.
"Reformasi energi bukan lagi sekadar pilihan kebijakan, melainkan keharusan yang tidak dapat ditunda dan menuntut keberanian politik untuk melakukan restrukturisasi secara terencana, terkoordinasi, dan berkelanjutan agar Indonesia tidak terus terjebak dalam siklus krisis yang berulang," ungkapnya.
Ia menjelaskan serangan terhadap infrastruktur energi serta ancaman terhadap Selat Hormuz memperparah situasi karena mengganggu produksi dan distribusi minyak global.
"Gangguan pada chokepoint geopolitik ini menciptakan double shock berupa produksi terganggu sekaligus distribusi terhambat," katanya.
Kondisi tersebut berdampak pada lonjakan harga minyak dunia yang naik dari 92 dolar AS menjadi 113 dolar AS per barel pada Maret 2026.
Dilema Kebijakan dan Tantangan Domestik
Menurut Ciplis, pemerintah menghadapi dilema antara mempertahankan subsidi energi atau menyesuaikan harga pasar yang berpotensi memicu inflasi.
"Menahan harga energi melalui subsidi berimplikasi pada peningkatan tekanan fiskal, sementara penyesuaian harga pasar berisiko mendorong inflasi dan menurunkan daya beli," ujarnya.
Defisit fiskal yang meningkat serta tingginya konsumsi energi domestik, terutama di sektor transportasi, memperumit upaya penyesuaian kebijakan.
Ia menilai langkah pemerintah seperti subsidi BBM, optimalisasi batu bara, serta percepatan energi bersih mampu meredam inflasi jangka pendek.
"Koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter menjadi prasyarat penting dalam menjaga stabilitas makroekonomi," ucapnya.
Namun, tanpa reformasi menyeluruh, Indonesia berisiko terjebak dalam fiscal-energy trap akibat ketergantungan impor dan beban subsidi yang terus meningkat.
Informasi tambahan menyebutkan reformasi energi dinilai penting untuk menjaga ketahanan nasional sekaligus mendorong transformasi ekonomi jangka panjang.
- Penulis :
- Aditya Yohan








