
Pantau - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan kerja sama keuangan antara Indonesia dan China mampu meningkatkan efisiensi perdagangan dan investasi sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Transaksi Mata Uang Lokal Jadi Kunci
Luhut mengatakan perubahan pola perdagangan global dan penyesuaian rantai pasok membuat modal menjadi semakin selektif.
“Pola perdagangan sedang bergeser. Rantai pasok sedang dikalibrasi ulang. Modal menjadi lebih selektif,” kata Luhut.
Ia menambahkan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi dinilai dapat menekan biaya, meningkatkan kepastian, serta mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar.
“Pada tingkat yang lebih dalam, ini tentang ketahanan. Ini tentang memastikan bahwa arsitektur ekonomi kita berkembang seiring perubahan dunia, dan bahwa perekonomian kita memiliki ruang gerak yang lebih besar di masa ketidakpastian,” ujarnya.
Peran Strategis Indonesia dan Penguatan LCT
Indonesia dan China telah memperbarui perjanjian swap mata uang bilateral pada Januari 2025 dengan nilai mencapai 400 miliar yuan.
Wakil Presiden Bank of China Yang Jun menyebut Indonesia memiliki peran penting dalam mendorong kerja sama regional dan implementasi transaksi mata uang lokal.
Ia menjelaskan mekanisme Local Currency Settlement (LCS) yang diluncurkan pada 2021 telah ditingkatkan menjadi Local Currency Transaction (LCT) pada 2025 dengan cakupan lebih luas.
Bank of China juga telah memfasilitasi transaksi mata uang lokal bagi sekitar 200 perusahaan dari kedua negara dalam skema tersebut.
Sementara itu, Minister Counselor Kedutaan Besar China di Indonesia Li Hongwei mengungkapkan nilai perdagangan bilateral kedua negara mencapai 167,49 miliar dolar AS pada 2025 dengan investasi langsung China sebesar 7,5 miliar dolar AS.
Kerja sama ini didukung sistem layanan keuangan multitingkat yang memperkuat proyek-proyek strategis antara Indonesia dan China.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








