
Pantau - Peneliti menilai ketertelusuran atau traceability menjadi faktor penting bagi industri kelapa sawit nasional, namun menghadapi tantangan besar terutama pada level petani kecil.
Peneliti Strategic Advisor Center for Entrepreneurship, Change, and Third Sector (CECT) Sustainability Universitas Trisakti Windrawan Inantha menyebut sekitar 42 persen areal sawit Indonesia dikelola oleh petani kecil.
Ia mengungkapkan, "Dalam konteks traceability, para petani kecil menjadi titik paling rapuh dalam rantai pasok."
Tekanan Global dan Tantangan Implementasi
Menurutnya, Uni Eropa melalui regulasi EU Deforestation Regulation (EUDR) menuntut produk sawit dapat dilacak hingga ke asal kebun dan dipastikan bebas deforestasi.
Hal ini menjadikan Uni Eropa tidak hanya sebagai pasar, tetapi juga penentu arah industri sawit global.
Ia mengatakan, "Traceability sawit hari ini lebih banyak lahir dari tekanan akses pasar dan tata kelola global daripada dari dorongan konsumen domestik."
Windrawan menjelaskan terdapat sejumlah tantangan utama di tingkat petani kecil, mulai dari legalitas lahan, kapasitas teknis, lemahnya insentif ekonomi, biaya sertifikasi, hingga keterbatasan sumber daya manusia.
Dorongan Peran BPDP dan Solusi Strategis
Ia mendorong Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) berperan sebagai katalis dalam mempercepat penerapan traceability di sektor sawit.
Ia menyampaikan, "Insentif kebijakan harus terasa nyata di tingkat petani."
BPDP diharapkan mendukung pemetaan kebun rakyat, pelatihan penggunaan teknologi geolokasi, serta digitalisasi data kelompok tani.
Selain itu, penyelesaian legalitas lahan dinilai menjadi kunci agar sistem traceability dapat berjalan efektif.
Ia menegaskan, "Selama status lahan belum jelas, data traceability tidak akan kokoh."
Windrawan juga menilai perlunya insentif ekonomi agar produk sawit yang tertelusuri memiliki nilai lebih dibanding yang tidak.
Ia mengatakan, "Selama buah dari kebun yang tertelusuri dihargai sama dengan yang tidak tertelusuri maka perubahan akan berjalan lambat."
Informasi tambahan menyebutkan pengembangan sistem informasi ISPO berbasis WebGIS dan aplikasi seluler oleh BPDP dinilai sebagai langkah awal yang positif dalam mendukung integrasi data dan penguatan tata kelola industri sawit.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








