
Pantau - Program biodiesel B50 dinilai mampu memperkuat ketahanan energi sekaligus menjaga stabilitas pasokan pangan, terutama minyak goreng, jika didukung peningkatan produktivitas sawit nasional.
Tantangan Pasokan dan Stabilitas Minyak Goreng
Perdebatan publik terkait B50 kerap menyoroti potensi gangguan terhadap pasokan minyak goreng yang menjadi komoditas sensitif bagi masyarakat.
Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari pengurangan impor solar, tetapi juga dari kemampuan menjaga ketersediaan bahan baku dan stabilitas harga pangan.
Program sebelumnya, B40 pada 2025, menunjukkan hasil positif dengan realisasi biodiesel mencapai 14,2 juta kiloliter dan penghematan devisa lebih dari Rp130 triliun.
Capaian tersebut menjadi dasar optimisme bahwa implementasi B50 bukan dimulai dari nol, melainkan kelanjutan dari kebijakan yang telah terbukti berjalan.
Optimalisasi Sawit Rakyat Jadi Kunci
Kebutuhan tambahan bahan baku untuk B50 diperkirakan sekitar 4 juta hingga 5 juta ton setara crude palm oil (CPO) per tahun.
Potensi pemenuhan kebutuhan tersebut dinilai dapat berasal dari peningkatan produktivitas kebun sawit rakyat yang saat ini masih tertinggal dibandingkan perkebunan besar.
Rata-rata produktivitas kebun rakyat sekitar 2,4 ton CPO per hektare, sementara perkebunan besar telah melampaui 3 ton per hektare.
Selisih ini dinilai sebagai peluang peningkatan produksi nasional tanpa perlu membuka lahan baru.
Upaya seperti program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penggunaan bibit unggul, serta perbaikan praktik budidaya menjadi langkah strategis untuk menutup kesenjangan produktivitas tersebut.
Pendekatan ini juga dinilai lebih berkelanjutan karena menghindari ekspansi lahan yang berisiko terhadap lingkungan.
Dengan strategi tersebut, implementasi B50 dipandang bukan sebagai ancaman, melainkan peluang untuk memperkuat sektor energi dan pangan secara bersamaan.
- Penulis :
- Aditya Yohan








