HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Berpotensi Bergerak Volatil di Tengah Sikap Wait and See Pasar Jelang Pertemuan The Fed

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

IHSG Berpotensi Bergerak Volatil di Tengah Sikap Wait and See Pasar Jelang Pertemuan The Fed
Foto: (Sumber : Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (24/4/2026). IHSG pada Jumat (24/4) ditutup melemah 249,12 poin atau 3,38 persen ke posisi 7.129,49, sementara indeks LQ45 turun 25,12 poin atau 3,51 persen ke posisi 690,76. ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/ba.)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak volatil pada perdagangan Selasa seiring pelaku pasar bersikap wait and see terhadap pertemuan bank sentral Amerika Serikat, The Fed.

Sentimen Global dan Arah Kebijakan The Fed

IHSG dibuka menguat 21,95 poin atau 0,31 persen ke level 7.128,47, sementara indeks LQ45 naik 1,76 poin atau 0,26 persen ke posisi 688,50.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengingatkan potensi koreksi lanjutan di pasar saham.

Ia menyatakan, “Kiwoom Research masih harus ingatkan para investor untuk persiapkan kemungkinan tutup gap di titik 7.022, atau konsolidasi lanjut ke level 7.000 - 6.917.”

Dari sisi global, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, termasuk terkait Selat Hormuz, masih menjadi faktor utama penggerak pasar.

Pelaku pasar juga menantikan hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang diperkirakan menahan suku bunga, namun tetap membuka peluang sikap lebih hawkish jika tekanan inflasi meningkat.

Faktor Domestik dan Pergerakan Bursa Global

Dari kawasan Asia, perhatian pasar tertuju pada kebijakan Bank of Japan yang diperkirakan mempertahankan suku bunga di level 0,75 persen.

Sementara dari dalam negeri, Bursa Efek Indonesia akan merombak indeks IDX30, LQ45, dan IDX80 efektif 4 Mei 2026 dengan fokus pada likuiditas dan free float.

Moody’s juga mempertahankan peringkat Indonesia di level Baa2 namun menurunkan outlook menjadi negatif, yang mencerminkan tekanan fiskal.

Pemerintah merespons tekanan ekonomi dengan kebijakan menanggung 100 persen PPN tiket pesawat selama sekitar 60 hari guna menjaga daya beli masyarakat.

Pergerakan bursa global turut memengaruhi sentimen, dengan indeks saham Eropa cenderung melemah dan Wall Street bergerak variatif, sementara sebagian besar bursa Asia juga dibuka di zona merah.

Kondisi ini membuat pasar domestik berpotensi bergerak fluktuatif dalam jangka pendek sambil menunggu kejelasan arah kebijakan global.

Penulis :
Ahmad Yusuf