
Pantau - Tenaga Ahli Menteri Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Satya Hangga Yudha Widya Putra menegaskan peralihan dari energi fosil ke energi baru dan terbarukan (EBT) menjadi keharusan strategis untuk mengurangi ketergantungan impor energi nasional, sebagaimana disampaikan saat menjadi pembicara utama dalam Symposium Energy 2026 di Kampus Institut Teknologi PLN (ITPLN), Jakarta.
Ketergantungan Impor Energi Jadi Tantangan
Hangga mengatakan Presiden RI telah memberikan arahan mengenai pentingnya mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan beralih ke EBT guna menekan beban impor energi nasional.
Ia mengungkapkan, "Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar pada sektor minyak bumi. Konsumsi minyak kita berada di angka 1,6 juta barel per hari, sementara produksi (lifting) dalam negeri 577 ribu barel per hari. Artinya, kita harus mengimpor lebih dari 1 juta barel setiap harinya."
Hangga menjelaskan konsumsi minyak Indonesia mencapai 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi dalam negeri hanya sekitar 577 ribu barel per hari sehingga kebutuhan nasional masih dipenuhi melalui impor lebih dari 1 juta barel minyak setiap hari.
Ia menyebut Indonesia telah menjadi net importer minyak sejak 2004 akibat reservoir minyak yang sudah tua dan memiliki kandungan air tinggi sehingga memengaruhi tingkat produksi.
Hangga menambahkan kapasitas total kilang nasional mencapai 1,2 juta barel per hari, tetapi saat ini hanya mampu mengolah sekitar 900 ribu barel per hari sehingga kekurangan pasokan dipenuhi melalui impor bahan bakar minyak (BBM) jadi.
Menurutnya, ketergantungan terhadap impor energi terus menggerus Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama ketika terjadi guncangan geopolitik global seperti konflik yang menyebabkan penutupan Selat Hormuz di Timur Tengah.
Ia menegaskan, "Oleh karena itu, peralihan ke EBT bukan lagi sekadar alternatif, melainkan sebuah keharusan strategis."
Pemerintah Percepat Pengembangan Energi Bersih
Hangga mengatakan porsi bauran energi baru dan terbarukan nasional saat ini baru mencapai sekitar 18 persen, namun pemerintah tetap optimistis mencapai target net zero emission (NZE) pada 2060 melalui peta jalan yang agresif.
Ia menjelaskan salah satu program yang dikawal Kementerian ESDM bersama PT PLN (Persero) ialah pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 GW dalam tiga tahun ke depan.
Menurut Hangga, pemerintah juga mengoptimalkan potensi energi panas bumi, biomassa, program listrik desa (Lisdes), serta pengembangan energi nuklir sebagai bagian dari strategi transisi energi.
Ia menambahkan Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat di sektor gas bumi dengan alokasi sekitar 70 persen produksi untuk kebutuhan domestik dan 30 persen diekspor dalam bentuk LNG maupun gas pipa.
Hangga mengatakan Indonesia juga menguasai lebih dari 40 persen pasokan batu bara global serta memiliki cadangan mineral strategis seperti nikel dan emas yang dapat mendukung pengembangan industri hijau.
Ia menyampaikan pemerintah akan mendorong terciptanya industri hijau yang diharapkan mampu membuka banyak lapangan kerja bagi generasi muda.
Hangga mengajak mahasiswa ITPLN untuk berkontribusi melalui pengembangan wawasan, riset, dan kajian ilmiah yang mampu memberikan solusi bagi pemenuhan kebutuhan energi masyarakat.
Ia menegaskan, “Peran PLN sebagai penyedia listrik terbesar dan kerja sama dengan Kementerian ESDM sangat vital karena listrik menggerakkan seluruh urat nadi perekonomian nasional. Di tangan anak muda dan mahasiswa teknik inilah masa depan kedaulatan energi Indonesia ditentukan.”
- Penulis :
- Shila Glorya





