
Pantau - Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menegaskan angkutan Bus Rapid Transit (BRT) menjadi solusi untuk mengurangi kemacetan, menekan emisi karbon, meningkatkan mobilitas masyarakat, serta mendukung transportasi perkotaan yang berkelanjutan seiring dimulainya pembangunan (groundbreaking) Indonesia Mass Transit Project (Mastran) di Leuwipanjang BRT Depot Site, Kabupaten Bandung.
Menhub mengatakan pembangunan fisik tersebut menjadi awal pengembangan sistem BRT di Kawasan Cekungan Bandung sebagai bagian dari transformasi layanan angkutan umum perkotaan.
Ia mengungkapkan, "Sistem BRT diharapkan meningkatkan konektivitas antarwilayah, memperkuat produktivitas masyarakat, mengurangi kemacetan dan emisi karbon, serta menghadirkan sistem transportasi publik yang modern, inklusif, dan berkelanjutan bagi masyarakat."
Pemerintah terus memperkuat komitmen membangun sistem transportasi perkotaan yang modern, terintegrasi, dan berkelanjutan melalui proyek strategis tersebut.
Pengembangan BRT di Dua Kawasan Metropolitan
Menhub menjelaskan Mastran merupakan program strategis pemerintah yang bertujuan mendorong pengembangan sistem angkutan massal perkotaan yang berkelanjutan dan terintegrasi.
Pada tahap awal, proyek Mastran difokuskan pada pengembangan sistem BRT di Bandung Basin Metropolitan Area (BBMA) dan Mebidang.
Pengembangan di dua kawasan metropolitan tersebut ditujukan untuk meningkatkan aksesibilitas, mengurangi waktu tempuh perjalanan, serta memperkuat tata kelola angkutan umum perkotaan.
Proyek Mastran mencakup pembangunan jalur khusus BRT, halte, depo, serta penerapan Intelligent Transport System (ITS).
Selain pembangunan infrastruktur, proyek tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kapasitas kelembagaan dan meningkatkan kesiapan operasional pemerintah daerah.
Di Kawasan Cekungan Bandung, sistem BRT akan melayani Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Sumedang.
Pada tahap pengembangan, proyek mencakup pembangunan koridor jalur khusus sepanjang 21 kilometer, pembangunan 34 stasiun BRT, penyediaan 18 rute layanan langsung, sekitar 719 titik pemberhentian bus, serta ratusan armada bus untuk melayani mobilitas masyarakat.
Melalui Mastran, pemerintah pusat bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pemerintah kabupaten serta kota di Kawasan Cekungan Bandung memperkuat fondasi sistem angkutan massal yang saling terhubung.
BRT dirancang menjadi tulang punggung layanan transportasi yang terintegrasi dengan kereta api, angkutan pengumpan, dan moda transportasi lainnya sehingga perjalanan masyarakat diharapkan menjadi lebih mudah, efisien, dan berkesinambungan dari titik keberangkatan hingga tujuan akhir.
Kolaborasi Pemerintah dan Dukungan Internasional
Menhub menegaskan keberhasilan pembangunan sistem transportasi massal tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada pembagian peran yang jelas antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Pemerintah pusat bertanggung jawab pada pengembangan kapasitas dan kelembagaan, penyusunan sistem BRT, pembangunan jalur khusus, stasiun, depo, fasilitas pendukung, serta penerapan Intelligent Transport System (ITS).
Pemerintah daerah berperan dalam penyediaan lahan, penerbitan regulasi, rekayasa lalu lintas, pembentukan badan pengelola BRT, serta memastikan operasional dan pemeliharaan layanan berjalan secara berkelanjutan.
Pemerintah berharap Mastran menjadi model pengembangan transportasi massal perkotaan di Indonesia melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, pemerintah kabupaten dan kota di Kawasan Cekungan Bandung, World Bank, serta Agence Francaise de Development (AFD).
Menhub menyampaikan berdasarkan analisis World Bank, pengembangan BRT Cekungan Bandung diproyeksikan mampu meningkatkan penggunaan angkutan umum hingga sekitar 99 ribu penumpang per hari.
Proyek tersebut juga diproyeksikan mampu mengurangi rata-rata waktu tempuh perjalanan sebesar 11 persen, meningkatkan akses masyarakat terhadap lapangan pekerjaan sebesar 25 persen, serta menurunkan emisi karbon hingga 196 ribu ton CO₂ secara bertahap.
Proyek Mastran dilaksanakan melalui kolaborasi Pemerintah Indonesia bersama World Bank dan AFD yang memberikan dukungan berupa pembiayaan, pendampingan teknis, serta berbagi pengalaman internasional dalam pengembangan sistem transportasi massal perkotaan yang modern, andal, dan berkelanjutan.
Secara keseluruhan, program Mastran didukung pembiayaan sekitar Rp3,8 triliun yang terdiri atas pinjaman World Bank sebesar 224 juta dolar Amerika Serikat, pinjaman AFD sebesar 40 juta dolar Amerika Serikat, serta pendanaan pendamping dari Pemerintah Indonesia.
Khusus pembangunan infrastruktur BRT di Kawasan Cekungan Bandung, nilai investasi mencapai sekitar Rp1,3 triliun yang dialokasikan untuk pembangunan jalur khusus, halte, depo, penerapan Intelligent Transport System (ITS), serta berbagai infrastruktur pendukung lainnya.
- Penulis :
- Arian Mesa





