
Pantau - Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (Unair) Surabaya melatih pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Distrik Warmare, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, mengolah buah matoa menjadi berbagai produk pangan bernilai ekonomi lebih tinggi.
Salah satu produk yang dikembangkan melalui pelatihan tersebut adalah dodol matoa sebagai upaya menyerap hasil panen sekaligus meningkatkan nilai jual komoditas lokal.
Dosen Unair Surabaya, Zamal Nasution, mengatakan pelatihan pengolahan matoa bertujuan memberikan nilai tambah bagi UMKM lokal sekaligus membantu petani menghadapi penurunan harga ketika memasuki musim panen raya.
Dodol Matoa Dikembangkan untuk Serap Hasil Panen
Zamal menjelaskan persoalan yang dihadapi petani ketika panen raya adalah melimpahnya pasokan matoa yang menyebabkan harga buah tersebut di tingkat petani turun drastis.
"Ketika panen raya, matoa melimpah sehingga harga di tingkat petani turun drastis. Makanya, perlu ada pengolahan lebih lanjut supaya hasil panen terserap dan olahan dodol matoa ini merupakan yang pertama kali," ujar Zamal.
Selain dodol, pelaku UMKM perempuan binaan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Manokwari mendapatkan pelatihan mengolah buah matoa menjadi selai, stik, dan es krim.
Pada tahap awal pengembangan produk turunan tersebut, kebutuhan bahan baku diperkirakan mencapai sekitar 200 kilogram matoa setiap bulan.
Kebutuhan bahan baku diharapkan terus meningkat seiring pengembangan produk dan perluasan target pemasaran.
Produk Olahan Matoa Diperkenalkan Lewat Pameran UMKM
Berbagai produk olahan matoa tersebut diikutsertakan dalam pameran UMKM di Manokwari yang berlangsung pada 10–12 Agustus 2026.
Tim Ekspedisi Patriot Unair turut menunjukkan berbagai produk hasil olahan buah matoa dalam pameran UMKM 2026 di Manokwari pada Senin, 10 Agustus 2026.
Pameran tersebut dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk olahan matoa kepada masyarakat sebelum rencana peluncuran pada 17 Agustus 2026.
"Lewat pameran UMKM, kami perkenalkan produk olahan matoa kepada masyarakat. Rencana peluncuran produk pada 17 Agustus nanti," ujar Zamal.
Hilirisasi Komoditas Lokal Dorong Kemandirian Pangan
Selain produk berbahan matoa, pengembangan pangan mencakup es krim rendah gula yang diarahkan menjadi salah satu alternatif pangan sehat untuk mendukung program pemenuhan gizi seimbang bagi anak-anak.
Produk lain yang turut dikembangkan adalah teh herbal dan berbagai olahan kacang yang diarahkan menjadi produk oleh-oleh khas Manokwari.
Program hilirisasi buah matoa diharapkan mendorong diversifikasi pangan dengan memanfaatkan komoditas lokal yang tersedia di Manokwari.
Hilirisasi tersebut juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat Manokwari terhadap konsumsi makanan ultra-proses yang memiliki nilai gizi rendah.
"Harapan kami, pengolahan komoditas lokal seperti matoa jadi langkah awal membangun kemandirian pangan, serta meningkatkan kesejahteraan petani dan UMKM," katanya.
Pengolahan matoa menjadi dodol, selai, stik, dan es krim ditujukan untuk memperluas pemanfaatan komoditas lokal, menyerap hasil panen saat produksi melimpah, meningkatkan nilai ekonomi buah matoa, memperkuat UMKM, serta meningkatkan kesejahteraan petani di Manokwari.
- Penulis :
- Arian Mesa



