
Pantau - Seorang pengusaha Taiwan dan putranya telah didakwa karena merekrut dua tentara yang diduga membantu mereka mengumpulkan informasi rahasia untuk Tiongkok tentang latihan militer terbesar di pulau itu, kata jaksa penuntut.
Setelah pindah ke provinsi Fujian di tenggara Tiongkok pada tahun 2015 untuk berbisnis, pria yang diidentifikasi dengan nama keluarga Huang itu dan putranya "dipikat" oleh dua pejabat Tiongkok yang ditemuinya untuk "mengumpulkan dokumen rahasia pertahanan nasional", demikian ungkap cabang Kejaksaan Tinggi Taiwan di Tainan.
Keduanya "bermaksud untuk membahayakan keamanan nasional, dan bersama-sama mengembangkan jaringan di Taiwan untuk memikat dan menyerap prajurit yang sedang bertugas aktif," kata jaksa penuntut dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Senin (7/8).
Huang didakwa melanggar undang-undang keamanan nasional dan undang-undang perlindungan rahasia negara, sementara kedua tentara tersebut didakwa melanggar KUHP Angkatan Bersenjata dan korupsi.
Dituduh merekrut dua tentara yang bekerja untuk divisi pertahanan udara dan rudal angkatan udara, ayah dan anak itu telah meminta mereka untuk menandatangani surat untuk berjanji "kesetiaan" kepada Beijing serta mengatur agar mereka dapat bertemu dengan para pejabat Tiongkok di luar negeri, kata pernyataan itu.
Kemudian bersama-sama mereka mengumpulkan delapan item tentang latihan Han Kuang, latihan perang tahunan terbesar di Taiwan yang berlangsung dua minggu lalu dan "dokumen militer rahasia lainnya" untuk diserahkan kepada para pejabat Tiongkok baik secara langsung atau melalui telepon seluler, kata jaksa.
China mengklaim Taiwan yang memerintah sendiri sebagai wilayahnya dan telah meningkatkan tekanan militer dan politik di pulau itu dalam beberapa tahun terakhir seiring dengan meningkatnya ketegangan.
Kedua belah pihak telah saling memata-matai satu sama lain sejak berakhirnya perang saudara antara nasionalis dan komunis Tiongkok pada tahun 1949.
Kasus Huang muncul setelah kementerian pertahanan Taiwan berjanji untuk meningkatkan upaya anti-spionase pekan lalu menyusul penahanan seorang letnan kolonel militer yang diduga mengumpulkan informasi intelijen untuk Beijing.
Sejumlah mantan pejabat tinggi militer Taiwan dalam beberapa tahun terakhir dituduh menjadi mata-mata untuk Beijing.
Pada bulan Maret, seorang pensiunan laksamana angkatan laut dan mantan anggota parlemen didakwa atas dugaan upaya membangun jaringan mata-mata untuk China.
[Sumber: CNA News]
- Penulis :
- Abdan Muflih








