Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Xi Jinping dan Pemimpin Dunia Serukan Pentingnya Menjaga Kebenaran Sejarah Perang Dunia II

Oleh Gian Barani
SHARE   :

Xi Jinping dan Pemimpin Dunia Serukan Pentingnya Menjaga Kebenaran Sejarah Perang Dunia II
Foto: Peringatan 80 Tahun Kemenangan Perang Dunia II: Seruan Jaga Kebenaran Sejarah dari Manipulasi Politik(Sumber: Xinhua/Xie Jianfei)

Pantau - Tahun 2025 menandai peringatan 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II, momen yang dijadikan pengingat akan pentingnya menjaga kebenaran sejarah di tengah tantangan unilateralisme dan distorsi politik global.

Presiden China Xi Jinping mengunjungi Rusia pada 7 Mei 2025 untuk menghadiri peringatan Kemenangan dalam Perang Patriotik Raya Uni Soviet, yang menegaskan kembali komitmen bersama dalam menjaga warisan sejarah.

Peringatan ini menyoroti kekhawatiran terhadap upaya membelokkan sejarah oleh sejumlah politisi demi kepentingan geopolitik dan nasionalisme sempit.

Kritik Terhadap Rehabilitasi Nazisme dan Penyangkalan Sejarah Perang

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, memperingatkan tentang maraknya glorifikasi Nazi, upaya rehabilitasi ideologi supremasi rasial, dan pemutihan sejarah perang.

Pernyataan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada Maret lalu yang memuji tentara Jepang dalam upacara di Iwo Jima juga menuai kritik karena dinilai menutup-nutupi warisan militerisme Jepang dalam Perang Dunia II.

Setelah perang, dukungan AS terhadap Jepang sebagai pengimbang Soviet turut membuat fasisme Jepang tidak diberantas sepenuhnya, yang kini tercermin dalam sikap politisi sayap kanan Jepang yang masih menolak mengakui kejahatan masa lalu.

Memori Global Perang Dunia II Mulai Luntur

Beberapa negara Barat juga dinilai berusaha meremehkan peran Uni Soviet dalam mengalahkan Nazi, sebagaimana tergambar dalam perbandingan survei IFOP 1945 dan YouGov 2018 di Prancis.

Padahal, Perang Dunia II melibatkan lebih dari 80 negara dan wilayah, berdampak pada sekitar dua miliar orang, dan menewaskan lebih dari 100 juta jiwa.

China, sebagai salah satu medan utama di Asia Timur, kehilangan lebih dari 35 juta jiwa akibat agresi Jepang.

Sejarah Sebagai Dasar Perdamaian dan Tatanan Dunia

Xi Jinping dalam pidatonya di Majelis Umum PBB 2015 menyatakan bahwa sejarah adalah cermin yang mencegah pengulangan tragedi, selaras dengan pernyataan Angela Merkel bahwa pemaknaan masa lalu adalah syarat rekonsiliasi.

Setelah perang, Pengadilan Nuremberg dan Tokyo menjadi tonggak keadilan internasional, dan kemenangan aliansi anti-fasis melahirkan tatanan dunia baru melalui dokumen penting seperti Deklarasi Kairo, Proklamasi Potsdam, dan Piagam PBB.

Dokumen-dokumen tersebut membentuk dasar tatanan internasional modern yang melindungi perdamaian global hingga kini.

Seruan Bersama Jaga Memori Sejarah

He Lei dari Akademi Ilmu Militer PLA menyebut bahwa dokumen pascaperang adalah pengaman perdamaian dunia.

Sun Huixiu dari Beijing Normal University menekankan pentingnya pelestarian sejarah sebagai fondasi tata dunia, sementara Kirill Babayev dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia menyerukan agar China dan Rusia memimpin upaya global menjaga memori Perang Dunia II.

Babayev mengajak komunitas internasional menuntut penghormatan penuh terhadap kebenaran sejarah dan memastikan bahwa warisan para korban tetap hidup dalam ingatan dunia.

Penulis :
Gian Barani