Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

Dubes RI untuk Swiss Dorong Optimalisasi Implementasi I-E CEPA dan BIT untuk Perkuat Hubungan Ekonomi

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Dubes RI untuk Swiss Dorong Optimalisasi Implementasi I-E CEPA dan BIT untuk Perkuat Hubungan Ekonomi
Foto: (Sumber: Seminar ”Indonesia & Switzerland in Dialogue: Free Trade and Economic Security in a Connected World” digelar di Universitas St. Gallen, Swiss, Kamis (16/10/2025). /ANTARA/HO-KBRI Bern..)

Pantau - Duta Besar Republik Indonesia untuk Swiss, Ngurah Swajaya, menegaskan pentingnya optimalisasi implementasi perjanjian Indonesia–EFTA Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-E CEPA) dan Bilateral Investment Treaty (BIT) guna memperkuat hubungan perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Swiss.

Dorongan Pemanfaatan CEPA dan BIT oleh Pelaku Usaha

Dubes Ngurah menyampaikan bahwa tantangan utama saat ini adalah meningkatkan pemahaman pelaku usaha, terutama sektor kecil dan menengah, agar dapat memanfaatkan fasilitas CEPA dan BIT secara optimal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kedua negara.

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam diskusi panel bertajuk “Indonesia dan Swiss dalam Dialog: Perdagangan Bebas dan Keamanan Ekonomi di Dunia yang Terhubung” yang diselenggarakan oleh KBRI Bern bekerja sama dengan Asia Club dan Sicherheitspolitisches Forum di Universitas St. Gallen, Swiss, pada Kamis, 16 Oktober 2025.

Dalam forum itu, Dubes Ngurah menyoroti besarnya potensi kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Swiss, dengan Swiss menjadi mitra perdagangan terbesar ketiga Indonesia di kawasan Eropa setelah Belanda dan Jerman dalam dua tahun terakhir.

Potensi Besar di Tengah Tren Global dan Stabilitas Ekonomi

Data terbaru menunjukkan bahwa ekspor Indonesia ke Swiss pada paruh pertama tahun 2025 melonjak lebih dari 100 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan nilai mencapai 3,14 miliar dolar AS atau sekitar Rp52 triliun.

Indonesia juga mencatat surplus perdagangan signifikan sebesar 1,46 miliar dolar AS pada tahun 2024, sementara nilai investasi Swiss di Indonesia pada tahun yang sama mencapai 244,9 juta dolar AS atau sekitar Rp3,72 triliun.

Dubes Ngurah menilai peluang kerja sama ekonomi semakin terbuka di tengah tren diversifikasi global serta posisi strategis Indonesia dalam kerangka Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Ia menjelaskan bahwa kondisi makroekonomi Indonesia tetap stabil dengan pertumbuhan ekonomi positif, Produk Domestik Bruto terbesar kedua di antara negara-negara G20, dan tingkat inflasi sekitar 3 persen yang termasuk terendah di dunia.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan kebijakan tarif unilateral yang menekan perdagangan internasional, Dubes Ngurah menilai perjanjian I-E CEPA dapat menjadi instrumen strategis untuk memperkuat kemitraan ekonomi yang saling melengkapi.

“CEPA yang telah berlaku juga menjadi salah satu faktor positif untuk dimanfaatkan sebagai peluang,” ujarnya.

Tantangan dan Harapan Penguatan Kerja Sama

Dalam pembahasan lebih lanjut, posisi Indonesia dinilai sangat potensial berdasarkan laporan Elite Quality Index 2025 yang menempatkan Indonesia pada kategori dengan kualitas elite institusional yang relatif baik.

Namun, Dubes Ngurah juga mengakui masih ada tantangan klasik seperti birokrasi yang lambat, keterbatasan rantai pasok industri, serta meningkatnya kebutuhan terhadap energi terbarukan.

Ia berharap seminar ini dapat meningkatkan pemahaman pelaku usaha terhadap potensi ekonomi Indonesia sekaligus memperkuat citra positif Indonesia di mata mitra internasional.

Dubes Ngurah menegaskan bahwa forum ini merupakan momentum penting untuk memperdalam kerja sama antara Indonesia dan Swiss di tengah dinamika ekonomi global yang tidak menentu.

Penulis :
Aditya Yohan