HOME  ⁄  Geopolitik

China dan Rusia Kutuk Penangkapan Maduro, Desak AS Segera Bebaskan Presiden Venezuela

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

China dan Rusia Kutuk Penangkapan Maduro, Desak AS Segera Bebaskan Presiden Venezuela
Foto: (Sumber: Tangkapan layar - Laman platform Truth Social milik Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengunggah foto Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang ditangkap dan berada dalam tahanan AS di atas kapal USS Iwo Jima. ANTARA/Truth Social @realDonaldTrump/am.)

Pantau - Pemerintah China dan Rusia secara terbuka mengecam tindakan Amerika Serikat yang menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, serta mendesak pembebasan mereka segera, dengan alasan pelanggaran hukum internasional dan ancaman terhadap stabilitas global.

Kementerian Luar Negeri China pada Minggu menyatakan bahwa AS harus segera membebaskan Maduro dan istrinya yang menurut pernyataan Presiden AS Donald Trump telah ditangkap dan dibawa ke luar negeri.

"China menyerukan kepada AS untuk menjamin keselamatan pribadi Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, membebaskan mereka segera, menghentikan upaya penggulingan pemerintah Venezuela, dan menyelesaikan masalah melalui dialog dan negosiasi," ungkap pernyataan resmi dari kementerian tersebut.

China dan Rusia Kecam Agresi Militer AS

Kementerian Luar Negeri China menyampaikan keprihatinannya atas penahanan paksa terhadap Maduro dan istrinya oleh pihak AS.

Tindakan tersebut dinilai melanggar hukum internasional dan norma-norma dasar yang mengatur hubungan internasional, serta bertentangan dengan tujuan dan prinsip Piagam PBB.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia juga menyatakan solidaritas penuh terhadap Venezuela.

Moskow mengungkapkan keprihatinan mendalam atas laporan mengenai pemindahan paksa Presiden Maduro dan Cilia Flores selama agresi militer oleh Amerika Serikat.

Rusia menuntut agar Maduro dan istrinya segera dibebaskan dan meminta agar semua pihak menahan diri guna mencegah eskalasi lebih lanjut.

Operasi Militer AS Picu Kritik dan Korban Jiwa

Pada hari Sabtu, Presiden Trump mengumumkan bahwa AS telah melakukan serangan besar-besaran terhadap Venezuela dan berhasil menangkap Presiden Maduro serta mengusirnya dari negara tersebut.

Beberapa media melaporkan adanya ledakan di ibu kota Caracas, yang dikaitkan dengan keterlibatan unit Delta Force milik AS.

Surat kabar New York Times mengutip seorang pejabat senior Venezuela yang menyatakan bahwa sedikitnya 40 orang tewas, termasuk personel militer dan warga sipil.

Otoritas Venezuela menyatakan bahwa mereka tidak memiliki informasi mengenai keberadaan Presiden Maduro dan menuntut bukti bahwa ia masih hidup.

Presiden Trump kemudian mengunggah sebuah foto yang diklaim menunjukkan Maduro berada di atas kapal perang USS Iwo Jima.

Media AS menyiarkan gambar pesawat yang mendarat di Negara Bagian New York, tempat Maduro dan istrinya diduga dikawal oleh puluhan petugas penegak hukum.

Sejumlah anggota Kongres AS mengecam operasi tersebut sebagai tindakan ilegal dan di luar kewenangan eksekutif.

Pemerintah AS menyatakan bahwa Maduro akan diadili atas sejumlah pelanggaran hukum berat.

Venezuela Ajukan Banding ke PBB

Kementerian Luar Negeri Venezuela menyatakan akan mengajukan banding ke berbagai organisasi internasional terkait tindakan AS terhadap kepala negara mereka.

Venezuela juga meminta digelarnya pertemuan mendesak Dewan Keamanan PBB yang dijadwalkan berlangsung pada 5 Januari mendatang.

Penulis :
Gerry Eka