
Pantau - Pemerintah China menegaskan komitmennya untuk tetap menjadi mitra yang baik bagi negara-negara di kawasan Amerika Latin dan Karibia, sekaligus menolak konsep hegemoni seperti yang tercermin dalam kebangkitan kembali Doktrin Monroe oleh Amerika Serikat.
Respons terhadap Rencana AS Hidupkan Kembali Doktrin Monroe
Pernyataan resmi China disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Lin Jian, dalam konferensi pers di Beijing pada Senin, 5 Januari 2026.
Penegasan itu muncul sebagai tanggapan atas wacana Amerika Serikat untuk kembali memberlakukan Doktrin Monroe, sebuah kebijakan luar negeri yang pertama kali dikemukakan Presiden AS James Monroe pada 1823.
Doktrin Monroe awalnya bertujuan untuk menolak campur tangan negara-negara Eropa di wilayah Belahan Bumi Barat, termasuk Amerika Latin dan Karibia, serta berkomitmen agar AS tidak ikut campur dalam urusan internal Eropa.
Namun, dalam praktiknya, doktrin ini kerap digunakan sebagai dasar intervensi AS di Amerika Latin.
Presiden AS Donald Trump pernah menyatakan pentingnya menegaskan kembali kendali AS atas kawasan tersebut melalui interpretasi modern dari Doktrin Monroe.
Meski demikian, dalam sebuah wawancara, Trump mengeklaim bahwa kebijakan terhadap Venezuela lebih didasarkan pada situasi internal negara itu, bukan sekadar letak geografisnya.
China Serukan Prinsip Kesetaraan dan Tolak Hegemoni
Menanggapi dinamika tersebut, Lin Jian menegaskan bahwa kebijakan China di kawasan Amerika Latin dan Karibia bersifat konsisten dan berlandaskan prinsip non-intervensi.
"Kebijakan China di kawasan Amerika Latin dan Karibia (LAC) mempertahankan kontinuitas dan konsistensi. Kami menjunjung prinsip non-intervensi dalam urusan internal negara lain, menghormati pilihan rakyat Amerika Latin dan Karibia dan tidak pernah menarik garis berdasarkan perbedaan ideologis," tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa kerja sama antara China dan negara-negara kawasan dilakukan berdasarkan kesetaraan dan saling menguntungkan.
China disebut tidak mencari pengaruh wilayah dan tidak menargetkan negara tertentu dalam kerja samanya.
"China siap bekerja sama dengan negara-negara Amerika Latin dan Karibia yang memiliki hubungan diplomatik dengan China untuk memperdalam kepercayaan strategis bersama, saling memahami dan mendukung dalam isu-isu yang menyangkut kepentingan inti dan perhatian utama bersama termasuk kedaulatan nasional, keamanan dan integritas wilayah," ujarnya.
Lin menambahkan bahwa China menghormati jalan pembangunan yang dipilih negara-negara kawasan sesuai kondisi nasional masing-masing dan menentang hegemoni serta politik kekuasaan.
"China dengan tegas mendukung status kawasan Amerika Latin dan Karibia sebagai Zona Perdamaian. China menentang setiap pelanggaran terhadap tujuan dan prinsip Piagam PBB dan kedaulatan serta keamanan negara lain, ancaman atau penggunaan kekerasan dalam hubungan internasional, dan campur tangan kekuatan eksternal dalam urusan internal negara-negara LAC dengan dalih apa pun," tegasnya.
Lin juga menekankan bahwa keterbukaan dan kerja sama saling menguntungkan menjadi ciri utama hubungan China dengan kawasan Amerika Latin.
"Keterbukaan, inklusivitas, dan kerja sama yang saling menguntungkan adalah ciri khas kerja sama China-Amerika Latin. Mereka memiliki hak untuk secara mandiri memilih jalur pembangunan dan mitra kerja sama," ungkapnya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








