
Pantau - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan telah menerima paparan sejumlah opsi serangan terhadap Iran di tengah meningkatnya gelombang unjuk rasa di negara tersebut.
Informasi tersebut dilaporkan oleh The New York Times (NYT) yang mengutip sejumlah pejabat senior Amerika Serikat.
NYT menyebut Trump sedang mempertimbangkan secara serius kemungkinan aksi militer, meskipun belum ada keputusan final yang diambil.
Opsi Serangan dan Risiko Balasan
Menurut laporan RIA Novosti dari Moskow, opsi yang dipaparkan kepada Trump mencakup serangan terhadap target non-militer di ibu kota Iran, Teheran.
Pilihan lain adalah menyerang aparat keamanan Iran yang terlibat dalam penanganan aksi protes.
Otoritas AS menyadari bahwa langkah tersebut berpotensi memicu aksi balasan terhadap personel militer dan diplomat Amerika di kawasan Timur Tengah.
Seorang petinggi militer AS mengatakan kepada NYT bahwa jika serangan disetujui, para komandan di kawasan akan memerlukan waktu untuk menyiapkan sistem pertahanan dalam menghadapi kemungkinan balasan.
Gedung Putih belum memberikan pernyataan resmi atas laporan itu, namun merujuk pada pernyataan Presiden Trump sebelumnya yang memperingatkan pemerintah Iran agar tidak melakukan kekerasan terhadap demonstran.
Pada Sabtu, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat siap untuk "membantu" rakyat Iran.
Protes Meluas dan Peran Reza Pahlavi
Pada hari yang sama, Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran yang digulingkan pada 1979, mengunggah video di platform X dan menyerukan pemogokan umum di Iran.
Dalam video tersebut, Pahlavi mendorong masyarakat untuk bersiap merebut dan menduduki jalan serta fasilitas strategis sebagai bagian dari perlawanan terhadap pemerintah.
Ia sebelumnya juga telah meminta Trump untuk melakukan intervensi di Iran.
Sejak 8 Januari 2026, demonstrasi meluas ke berbagai wilayah Iran menyusul seruan dari Pahlavi.
Video di media sosial menunjukkan aksi unjuk rasa besar-besaran di Teheran dan sejumlah kota lainnya.
Akses internet di Iran dilaporkan terputus pada hari yang sama.
Aksi protes bermula sejak akhir Desember 2025 akibat anjloknya nilai mata uang rial Iran, yang memicu lonjakan harga kebutuhan pokok.
Gubernur Bank Sentral Iran, Mohammad-Reza Farzin, mengundurkan diri di tengah gejolak ekonomi dan politik yang kian memburuk.
Di beberapa kota, aksi demonstrasi berubah menjadi bentrokan antara warga dan aparat keamanan.
Seruan untuk mengganti sistem politik di Iran mulai bermunculan dalam protes-protes tersebut.
Menurut laporan Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia Iran (HRANA), hingga Sabtu jumlah korban tewas akibat aksi protes telah mencapai 65 orang.
- Penulis :
- Gerry Eka







